- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Aku…”. Katanya bingung. Perihal hati yang minta jawaban, perihal perasaan yang minta untuk dibalas namun wanita didepannya ini sudah mati rasa. Mungkin dia belum tahu, tidak ia menolak untuk tahu karena katanya semua akan luluh pada waktunya. Katanya semua tentang waktu tapi ia tak pernah tahu waktu yang akan datang nantinya.
“Aku ngga punya banyak waktu. Aku mau pulang”. Kata wanita didepannya, sedikit lantang namun lebih ke lemas. Seharian jadi manusia penuh tuntutan yang energinya sudah habis masa sisa raga kosong yang tak berisi arti apa-apa.
Harsha cuman buang napas pasrah, wanita didepan tak bisa dilawan. Tapi kata hatinya tak apa, masih ada waktu lain buat ungkapin isi hati. Harsha ngga mau memaksakan, wanita didepannya tak punya tenaga, lantas ia tak boleh egois karena perihal hati masih bisa diungkap lain kali. Yang penting wanitanya, yang penting wanitanya tenang dulu dan hirup udara segar.
“Yaudah hati-hati ya, kabari aku kalau udah di rumah”.
Tak ada lanjutan, wanitanya langsung balik badan perlihatkan bahu kecil yang kian ringkih dibabat kenyataan dunia secara habis-habisan. Harsha cuman punya hati dengan perasaan penuh yang selalu ia bawa untuk bertemu dengan pemiliknya. Nami, pemilik hati Harsha yang sampai saat ini masih berlabuh kemana-mana tanpa tahu bahwa tujuannya adalah Harsha, seorang pria yang bergelar sebagai pewaris satu-satunya yang baru diumumkan dua hari yang lalu. Nami tahu apa tentang harta dan martabat, yang ia tahu ia harus kerja agar bisa hidup untuk esok hari.
Harsha sibuk melangkah, dia yang katanya pewaris tunggal memilih jalan kaki guna hilangkan sekelebat kalut yang kian memenuh hati dan pikiran. Buang napas kasar dan menatap langit diatas. Menurutnya cuaca cerah begini sangat sayang untuk dilewatkan, banyak bintang bertebaran seharusnya dinikmati saja namun sayang sekali manusia zaman sekarang hanya sibuk memandang harta yang kalau kata Harsha tidak ada apa-apanya.
Cuaca cerah namun hatinya berkata sebaliknya, entahlah katanya nanti akan ada berita besar yang tentunya buat Harsha tersiksa dalam waktu lama. Tapi Harsha tak tahu itu semua, karena dia hanya manusia, takdir maupun apapun itu merupakan jalan tuhan yang bukan campur tangan dirinya. Kepala Harsha hanya penuh tentang Nami. Nami adalah perempuan pertama yang mencuri perhatiannya. Sejak duduk di kelas 2 SMA, Nami yang tidak terlalu mencolok menjadi tambatan hati yang buat Harsha punya tekad dan mimpi untuk wanita yang tahu banyak tentang pahitnya dunia.
Harsha susun momennya bersama Nami, Harsha tak akan pernah lupa sorot mata Nami yang menenangkan namun sedikit misterius serta rambut hitam panjang yang tergerai tanpa ikatan apapun. Harsha masih ingat bagaimana jantungnya berdegup kencang dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia masih sangat ingat saat kaki kian goyah lantaran Nami yang menghampirinya perihal bukunya yang Harsha sembunyikan.
Harsha yang jahil sedang berjuang untuk hati yang tak pernah ia tahu isinya.
Jam sudah menunjukkan jam 12 malam dan wanitanya belum ada kabar, diraih sebentar hpnya guna menanyakan kabar singkat. Harsha cukup cemas, tapi ia berusaha setenang mungkin agar pikiran tidak menambah kabut kalutnya.
“Dia kemana sih?” batinnya, yang kian cemas dan mulai was-was.
Panggilan masuk dari ia yang tak diharapkan, cukup tiba-tiba sampai buat Harsha berpikir ada apa telpon dari sosok teman di jam 12 yang sangat tidak terencana ini?
“Halo”.
“HAR UDAH CEK TWITTER NGGA?!”
“Woy santai, apaan sih? jangan ngegas udah malam nih”.
“CEK SEKARANG, GUE KIRIM”.
Harsha jelas tak tahu apa-apa saat diri di ambang bimbang bingung perihal hati yang selalu minta jawaban. Telponan Naka benar-benar membuatnya bingung tak kepalang, pasalnya sudah jam 12 lewat 3 menit lantas kabar apa yang menunggunya.
Baru tiga kata yang terbaca, Harsha dibuat lari mati-matian.
Ombak tak akan semenakutkan ini jika hal yang paling buruk tidak mendatanginya. Sebab tadi Naka mengirimkan sebuah cuitan mengenai jenazah wanita yang ditemukan tenggelam di laut lepas. Yang paling membuat hatinya mantap ialah jenazah tersebut berinisialkan N, inisial wanita yang ia cintai mati-matian.
Terlihat keramaian dan Harsha sudah buta, setiap bahu yang ditabrak menambah kesan menyedihkan untuknya dan betapa hancurnya Harsha hal pertama yang menyambutnya adalah hal yang paling tak pernah ia harapkan, kantong jenazah dibuka dan Harsha jatuh bersimpuh.
Tubuh wanitanya yang pucat menyambut indera penglihatannya.

Komentar
Posting Komentar