Sebenarnya Araya sudah muak, hatinya sudah mantap lantas jangan dipertanyakan lagi. Ia sudah meyakinkan hati bahwa pilihannya ini tak akan pernah ia sesali. Pasalnya tadi ia baru saja dapat surat yang buat amarahnya membucah hebat, lempar barang sekitar buat lampiaskan sekelebat emosi yang membutakan.
“Ya yakin lah. Gua udah keren gini tolong di dukung dong.” “Bukannya apa, yang kamu lawan itu orang berduit sayang, yang punya backingan kuat. Aku takut.”
Araya paham pacarnya ini takut, lebih tepatnya ngga sudi biarkan ia jalan ke gerbang yang akan jadi maut dengan modal nekat dan semangat yang tersampir dibahu. Tapi Araya sudah muak, kebenaran harus ditegakkan. Jiwa kemanusiaan harus dijunjung sebenar-benarnya. Kasus yang menelan sahabat tersayangnya sangat menyiksa, Araya jelas diisi dendam yang membara.
“Tenang aja, pacar lo ini hebat. Gue jelas ngga akan kalah kali ini”
Araya persiapkan semua bukti yang telah terkumpul selama setahun. Selama itu juga ia dedikasikan hidupnya hanya untuk menguak kasus kematian tak adil temannya. Araya dengan modal otak dan semangat tentu ngga mau kalah lawan orang yang berlindung di balik kuasa harta.
“Oke gue udah susun rencana, lo bakal upload semua bukti di semua platform di jam yang udah kita setujuin.”
“Got it.”
“Lokasi di cafe Vous et moi kursi dekat jendela dan pintu, gue udah reservasi atas nama lo dan ingat jangan pesen apapun. Lo datang, upload langsung cabut, oke?”
Araya menjelaskan semuanya yang ada dipapan, papan yang penuh tempelan serta garis yang cukup abstrak namun terstruktur seperti pikirannya. Jevano dengarkan secara seksama, tak mau rusak rencana, wujudkan keinginan pacar, balaskan dendam pacar merupakan to-do list teratasnya karena Araya yang jatuh dengan penyesalan sangat menyiksa dirinya.
Araya hening sejenak, berfokus dengan handphonenya sejenak dan tak lama bunyi ting sampai ke handphone milik Jevano.
“Itu lokasi gue dan itu akan jadi tujuan lo selanjutnya.”
Araya siapkan semua rencana dengan matang termasuk rencana tambahan. Jevano turut andil dalam rencana Araya, ia juga jadi incaran para oknum yang katanya suci itu lantas Araya kerahkan semua usaha agar cinta satu satunya tak hilang dari pandangan.
“Datangi gue saat gue kasih signal.”
“Araya, tolong tetap hidup, ya?”
Tak ada jawaban, Araya hanya balas senyuman. Tak bisa berjanji karena Araya hanya punya diri sendiri dan hasil jerih payah yang jadi backingan sangat kuat kali ini. Ia jelas akan kalah namun menang disaat yang bersamaan. Araya sudah tiba ditempat, tepuk tangan sambut kehadiran, tepuk tangan ketiga dilanjutkan dengan gelak tawa. Araya tersentak, pertama kali di posisi sesak dan kedua kaget akan fakta.
“Kenapa? kaget ya? duh Araya lo tu kurang pinter gimana lagi sih? masa nangkap gue aja ngga bisa”
Araya tercekat fakta, kebenaran membuatnya mual. Dunia benar-benar penuh candaan.
“Atharael?”
“Iya?”
“Kenapa?”
“Seperti yang pernah gue bilang, gue akan menjadi nomor 1 dan gue akan melakukan apapun buat itu.”
Atharael melangkahkan kaki, mengitari Araya, buat ia makin tercekik penyesalan, bawa ia jatuh pada kenyataan dunia kelam. Benar, kebenaran itu pahit.
“Resha terlalu bodoh, dengan gamblangnya berbicara tentang dirinya yang berhasil memecahkan misteri rumus yang diberikan pak Jo, gue yang gila kuasa tentu ngga mau kalah.”
Suara Atharael kian menghilang, perlahan telinganya berdenging. Hati yang kuat, serta pikiran yang mantap seketika goyah. Araya cuman bisa terisak pelan, pejamkan mata serta diam seribu bahasa, berhadapan dengan manusia bejat buat ia lupa tujuan awal.
“Bajingan.”
“Makasih ya Araya, lo membantu banget. Gue perlu kasih hadiah juga nih sama lo.”
Araya dihadapkan dua pilihan, dua takdir yang berbeda, dua hal yang membuat otaknya tak bisa berpikir dengan jelas.
“Pilihan ngga ada yang mudah Araya, cuman lo doang yang anggap pilihan itu enteng.”
Genggamannya kian bergetar, netra penuh akan kebencian. Atharael yang dikenal baik dan berwibawa justru menjadi yang pembunuh berdarah dingin yang paling kejam. Image polos Atharael sangat menipu orang, Araya termasuk salah satunya.
“Pilihan gue mudah kok, Mau bantu gue dan Jevano aman atau tangkap gue tapi relain Jevano?”
Araya terlalu memandang remeh pilihan, hingga pilihan dua takdir yang tak ia inginkan datang dan menamparnya habis-habisan bahwa di dunia tidak ada yang mudah. Memilih tak semudah membalikkan telapak tangan. Memilih tak akan sama dengan tujuan.
“Pilihan lo ngga ada yang menarik, tapi karena ini hadiah jadi akan gue terima.
Gue akan relain Jevano, so let’s begin our game Mr. Athrael”

Komentar
Posting Komentar