Un Choix

Restu


 Tw // Mention of death

Althena tentu ngga mau menyia-nyiakan, ada kesempatan lantas ia harus bernapas lega. Baru saja cutinya diterima tentu saja Althena sudah persiapkan semua. Joseph belum tahu tapi semoga saja ia bisakan. Althena melakukan semua yang ingin dilakukan, bangun sedikit telat, memakai pakaian yang nyaman dan pergi membeli bunga kesukaan. Sudah lama Althena tidak menginjakkan kaki ke toko bunga, kata pemiliknya ia hampir lupa dengan rupa Althena.

“maaf, akhir-akhir ini Althena sibuk”.

“Sibuk boleh Althena, tapi jangan lupa sama diri sendiri. Kesian diri kamu”.

“Iyaa bibi, makasih ya..”.

Althena tidak tahu, selain Joseph masih ada bibi pemilik toko bunga yang menyayanginya sepenuh hati. Katanya ia suka senyum Althena yang mampu membuat semua orang jatuh hati padanya. Datangnya Althena tentu membawa secercah bahagia untuk pemilik toko bunga yang sudah dimakan masa. Althena memandangi bunganya, sesekali mengelus pelan dan menghirup sebentar. Wanginya membuat ia tenang, hiruk pikuk dunia sempat tersamarkan.

“Ayo duduk, bibi buatin teh”.

“Eh… ngga usah repot-repot bibi, Althena udah mau balik kok.”

“Althena, kita udah jarang ketemuan loh. Berbincang sebentar ngga ada salahnya kan”.

Althena menimba sebentar, perkataan bibi ada benarnya. Althena pergi ke tempat paling pojok toko bunga, menyamankan diri dan melemparkan senyum pada bibi sebagai isyarat bahwa ia siap untuk berbincang. Althena melihat ke sekeliling, tak ada yang berubah. Tempat ini masih sama hangatnya saat Althena menginjakkan diri ke tempat ia pijak sekarang.

Dulu semuanya gelap, masa dimana sangat dibenci oleh Althena. Yang kabur dari rumah demi sebuah kehangatan karena rumahnya saat itu benar-benar dingin. Althena berjalan tertatih, tarik napas berat dan dihembuskan dengan buliran air mata. Seragamnya sudah kotor, tak karuan bersaaman dengan hati dan pikirannya. Yang hanya ia pikirkan adalah mati, mati, dan mati.

Bersandar dan terperosot pada dinding toko bunga, meraungkan tangisan di jam 12 malam dimana tidak ada saksi yang melihat kehancuran hidupnya. Althena mau akhiri hidup, pergi ke laut dan biarkan laut memeluk tubuh ringkihnya. Namun pemilik toko bunga menghentikannya, menahan Althena pergi dengan nekat yang terkumpul dan kepala yang gaduh. Menahan Althena untuk pergi ke gerbang kematian lebih dulu darinya.

Pelukan menyambut, tepukan di bahu buat Althena makin kalut. Kata pemilik toko bunga, boleh bersedih tapi jangan menyerah. Hari baik akan datang jadi jangan dilewatkan.

Kalut Althena diluruhkan, aturan napas kian stabil dan tangisan mereda sebab teh hangat dan kata baik pemilik toko bunga buat ia sadar bahwa hidupnya layak diperjuangkan. Tangisan hari ini cukup jadi cerita saja, bukan jadi alasan untuk menyerah dan gagal.

“Althena, pacarmu tampan. Bibi kagum, ia sangat-sangat mencintai mu”.

“Bibi…”.

Hati Althena rasanya turun hingga ke dasar, napasnya tercekat. Hubungan yang sewaktu waktu menjadi senjata paling mematikan apakah layak untuk diketahu orang-orang? Althena ngga bisa berpikir jernih, lemas dan hawa kian panas. Hubungan yang ingin ia kubur paling dalam dibawa ke permukaan dengan mudah.

“Althena, ia selalu membeli bunga kesukaan mu dan tak lupa untuk memuja mu di depan bibi. Ia bilang bahwa pasangannya sangat indah, mengaguminya saja tidak cukup. Ia benar-benar harus dipuja dan dirawat karena menangis saja rasanya sangat tidak cukup untuk mengagungkan dirimu”.

“Bibi… tau?”.

Althena ragu, bibi di depannya ini sangat abu-abu, tidak jelas. Hubungannya dengan Joseph apakah akan ia restui atau ia maki tanpa hati nantinya?

“Althena, bibi senang kamu jatuh ke orang yang tepat. Kamu punya pendamping yang menerima mu apa adanya”.

Althena tak bergeming, padangannya turun kebawah, ada hati yang tidak siap. Ia sejujurnya butuh validasi atas hubungan agar tahu apakah di dunia ini masih ada tempat untuknya dan Joseph yang lawan norma dan stigma kehidupan.

“Bibi merestuimu, Althena. Restu bibi ini mohon diterima, ya?”

Althena menatap bibi dalam, tak terasa air matanya jatuh tanpa paksaan. Dirinya… dan Joseph diterima oleh orang yang sangat Althena hormati. Sejak malam itu, Althena menjatuhkan dirinya pada pada bibi yang mau mengambil dirinya yang tersesat dalam kehidupan.

“Tapi…”.

Jeda, Althena nantikan jawaban apa yang akan keluar, genggamannya kian mengeras dan bibi bisa melihat genggaman kecil Althena yang penuh awam dan banyak was-wasnya. Ia raih genggaman tersebut sambil tersenyum dan balas menatap mata Althena yang penuh dengan air mata.

“Kalau sewaktu-waktu ia menyakitimu, tolong balik ke bibi, ya?

Bibi dengan senang akan menyambutmu, Althena. Jangan lupakan bahwa bibi juga rumah mu”.

Hancur sudah perthanan Althena, menangis tersedu di siang hari, bahu bergetar dan isak tangis makin menggema. Untung saja bibi menutup tokonya sebentar karena ia rasa Althena perlu mendengarkan semua ucapannya hari ini. Pelukan bibi menyambutnya, dan ia rengkuh dengan kuat. Menangis dengan kuat sebab dunia pernah menjadi tempat yang menakutkan.

“Aduh… sayangnya bibi, dunia udah jahat ya sama kamu”.

Tak ada yang spesial, toko bunga yang tutup lebih awal untuk menyambut risak tuan muda yang sudah lemah akan dunia.

Komentar