Un Choix

2 AM Butterflies

Raga kian gusar dan Kala kian tersesat. Pikirannya benar-benar bertebaran, duduk dihadapan pekerjaan benar benar menguras tenaga. Namun jika tidak bekerja, akan makan apa ia? akan hidup dimana ia?

Jari kian menari dengan lincah dan pikiran makin dipaksa namun batasan sudah hampir lewat, Kala butuh istirahat. Perlahan kaki ia bawa ke peraduan, pelan tapi pasti. Napasnya ia paksa beraturan dan kepala ia kumpulkan warasnya. Raga pada peraduan dan kaki terkulai lemas. Dirinya yang seperti ini tak pernah Radeva lihat atau saksikan sebab kalutnya seorang Kala cukup dia dan kamarnya yang tahu, Radeva jangan.

“Halo Radeva, Kenapa?”

Sambungan telpon jam 2 pagi sangat mengagetkan, sebab bagaimana bisa seorang Radeva masih terjaga walaupun ia tak punya pekerjaan yang harus dikerjakan. Kala bawa diri ke meja makan, minum sebentar guna melegakan tenggorokan, sambungan telpon tadi tidak ia bisukan dan Radeva bisa mendengar semuanya.

“Kamu minum apa, sayangku?”

“Minum teh kotak. Lagi kepengen yang manis-manis.”

“Aku kurang manis ya?”

Radeva ini kalau kerjanya ngga ganggu ya menggombal. Sebab Radeva sangat profesional dalam hal menarik hati. Namun tentu hanya berlaku untuk Kala sang pujaan hati. Kalau orang lain tak akan ia ladenin. Sebab menarik hati seorang Kala itu benar-benar asyik dan Radeva mau mengulangnya berapa kali pun. Radeva masih berbaring dan mata kelewat kering sebab memikirkan Kala mampu membuatnya lupa berkedip. Ya namanya jatuh cinta, lupa napas aja bisa terjadi.

“Bisa aja. Kamu kenapa belum tidur, Radeva?”

“Mau dengar suara kamu dulu”

Itu bukan sekedar alasan, memang benar Radeva ingin mendengarkan suara perempuannya sebelum risak melanda. Radeva sendiri punya masalah. Masalah yang ia kubur dalam agar tak tercium semerbak oleh wanita yang paling ia cintai itu. Masalah yang Radeva harap bisa segera tuntas, namun tuntas juga perlu waktu. Ia merubah posisi, menyamankan diri di peraduan, menatap sebentar lampu tidur yang menerangi foto wanita yang menjadi hiasan meja kecil di samping tempat tidurnya. Katanya Radeva supaya mimpi indah karena katanya foto Kala itu jimat yang paling ampuh dan dapat mencegah berbagai aura negatif yang mengganggunya.

“Kamu sendiri kenapa belum tidur? padahal ini udah jam 2 malam loh.”

“Ada yang mesti aku selesaiin.”

Pikiran Kala kian jernih, suara Radeva di jam dua pagi benar-benar menenangkannya.

“Kirain kangen aku.”

“Itu juga salah satu alasannya, ganteng.”

Kala bisa dengar semuanya, seperti suara dug yang baru saja terdengar disana. Kala yakin Radeva baru saja kesenangan hingga jatuh dari tempatnya berbaring. Radeva itu mudah ditebak, Kala yang kelewat tenang suka mengagetkan Radeva. Sebab Radeva yang kaget bisa didukung dua faktor, Ia yang terkejut akan gombalan Kala atau jumpscare film horror yang ia tonton di jam 5 sore.

“Sayang kalau mau gombal tu bilang-bilang dulu atuh. Aku kaget gini kamu mau tanggung jawab?”

“Mau sayangku.”

Hening. Benar-Benar hening, sebab Radeva baru saja meredam teriakannya dibantal abu miliknya. Dan disana Kala hanya mengulum senyum sebab tahu hati seorang Radeva baru saja ia buat berantakan seperti pikirannya sekarang. Radeva tarik napasnya, sekali agar tenang, dua kali agar kembali waras, dan ketiga kali agar siap diserang kali saja masih ada serangan dari wanitanya. Kala kalau sudah gombal bisa buat Radeva jatuh berantakan.

“Ngga mau tau kita harus ketemu. Besok pagi. Harus.”

“Siang aja, Radeva. Kamu belum ada tidur.”

“Ngga mau, pokoknya harus besok pagi.”

Kala sejujurnya kesal dengan keras kepala seorang Radeva, namun satu sisi juga cukup menghiburnya. Kala menjatuhkan diri diperaduan, pipinya kian memanas mengingat kelakuan Radeva yang membuatnya tersipu habis-habisan. Teh kotak tadi sudah habis, namun manisnya masih berasa sebab Radeva dan kelakuannya juga ngga kalah manis. Kala suka Radeva yang manis. Menurutnya lucu dan mampu membuatnya candu.

“Cantikku tidur ya. Besok kita ketemu, okei?”

“Iya ganteng ku.”

Hening lagi dan Kala pastiin bahwa Radeva tak akan bisa tidur dengan tenang sebab pikiran yang penuh tentang dirinya. Benar saja, disana Radeva mengusak rambutnya sebab tak tahan sensasi kupu-kupu yang memenuhi perutnya. Ya tuhan, jadikan malam ini menjadi malam yang indah untuk kedua insan yang engkau gariskan takdirnya.

“Udah ah… aku mau bobo.”

“Selamat malam Radeva.”

Kalimat penutup tadi sungguh manis. Radeva bisa merasakan wajahnya yang kian memanas, sesaat ia bangkit dari baringnya dan berkaca sebentar untuk memastikan bahwa ia memang tepat untuk seorang Kala.

“Oh ya jelas… gue cakep gini udah pasti pantas lah.” Katanya dengan percaya diri.

Malam Radeva ditutup dengan manis sedang Kala harus kembali terusik. Tak ada yang tahu masalah dari keduanya, sebab Radeva tak ingin Kala terusik dan Kala yang tak ingin menambah beban Radeva. Mereka benar-benar cocok, Radeva dan tidurnya serta Kala dan kalutnya.

Komentar