Un Choix

Akhir Sebuah Cerita

 

Mari kita putar balik, seberapa banyak dongeng anak yang pernah kita temui dan berapa banyak juga sebuah akhir bahagia yang kita dengar. Bukankah kita sungguh munafik untuk menyangkal bahwa kita bukan salah satu dari mereka yang menginginkan sebuah akhir bak putri dengan pangeran berkuda. Atau mungkin sebuah akhir dari si buruk rupa dengan dia yang maharupa. Kita semua pernah memimpikan semua akhir cerita dongeng anak-anak yang dimana kita harus telan dengan mentah bahwasanya kita hidup sebagai manusia yang akan terus tumbuh dan berkembang.

Lalu... masih tetap berlakukah sebuah happy ending dari dongeng anak untuk kita manusia yang umurnya sudah melahap angka besar?

Tarendra akan jujur bahwa ia sungguh menginginkan sebuah akhir dongeng kesukaannya. Sebuah dongeng dimana seorang pangeran berhasil menemukan seorang putri yang telah ia cari keberadaannya. Tarendra ingin sekali menjemput putrinya dengan dirinya yang sungguh gagah dengan kuda putih kesayangannya. Tarendra kumpulkan harapan, ia susun satu-satu di buku yang selalu menemaninya. Harapan itu ia kumpulkan tidak untuk menjadi angan belaka, namun bisa apa kita yang manusia biasa ini setiap harinya diberi pilihan yang diluar keinginan.

"Ngga dingin apa duduk disini seharian?"

Baru saja ia menyelesaikan gambaran akhir ceritanya, Tarendra disadarkan dari sepatah kata yang dilontarkan oleh lawannya. Sungguh menyebalkan karena ia harus kembali mengecap realita pahitnya.

"Ganggu aja, ngapain kesini?"

"Nungguin lo selesai."

lucu kalau dipikir-pikir karena daritadi Tarendra hanya menikmati waktu panjangnya dengan menatap pohon besar dihadapannya. Pohon itu sudah diselimuti salju namun teduhnya masih bisa dirasakan Tarendra. Bahkan hawa dingin pun tidak ada yang datang atau bahkan berhembus. Bukankah ini sungguh ajaib?

"Selesai apa? gue ngga ngapa-ngapain."

"Pertanyaan yang bagus. Gue juga bingung tapi entah kenapa gue ngerasa mesti nungguin lo."

Harsa yang daritadi hanya memainkan game mobilenya mencoba untuk merangkai kalimat, kalau dipikir-pikir sudah hampir setengah jam ia menemani Tarendra yang hanya diam dan bergelut dengan pikiran yang Harsa tak pernah tahu apa yang sedang dipikirkan Tarendra.

"Sa... happy ending menurut lo itu... gimana?"

Harsa bagai di timpuk palu besar, ia tak pernah membayangkan sebuah akhir cerita yang baik dan tak pernah ia harapkan juga. Karena jawabannya sungguh sederhana, Harsa merasa dirinya tak pantas untuk sebuah akhir yang bahagia. Disaat manusia lain berusaha berdamai dengan berbagai permasalahan yang telah dihadapkan, Harsa terpaksa menerima bahwa dirinya lah yang menjadi permasalahan. Hanya berdamai degan dirinya sendiri mengapa harus serumit ini. Harsa... ia sungguh membenci dirinya sendiri, dirinya yang selalu menginginkan sebuah cinta, serta dirinya yang menginginkan sebuah pengakuan. Harsa sungguh benci. Berbagai cacian ia lontarkan pada dirinya, tapi tetap saja bagaimanapun itu Harsa tetap harus menerima dirinya dan berdamai. Sungguh tak pantas seorang Harsa mendapatkan happy ending yang dirinya saja tak akan pernah bisa ia terima.

"Aneh banget lo hari ini segala pake nanya happy ending. Dikata kita lagi didongeng."

Ada sesuatu dengan Harsa, permainan gamenya berubah menjadi kacau dan kakinya yang tadi hanya diam kini mulai menciptakan gerakan gelisah yang dapat Tarendra tebak bahwa telah terjadi sesuatu. Tarendra sungguh hafal bahwa Harsa merupakan seseorang yang sungguh ahli dalam sebuah permainan. Bahkan kamarnya pun hampir penuh dengan piagam dirinya yang hanya bermain sebuah game.

"Setidaknya selama lo punya waktu, pikirkan sebentar akhir cerita yang lo impikan. bisa aja semuanya berawal dari mimpi, kan?"

Waktu? Harsa tak berhak untuk dirinya sendiri apalagi waktu. Sungguh ia dibuat pusing hanya perkara akhir cerita ini. Tak bisa kah Harsa hanya menjalani hidupnya yang sungguh kurang ajar ini?

"Kalau lo? happy ending yang lo mau kek gimana emang?"

Tarendra kembali membuka kumpulan harapan milik dirinya, harapannya sungguh panjang dan kalimatnya pun sungguh berantakan. Lembar demi lembar ia telusuri, beberapa cetakan hurufnya mulai memudar tapi masih bisa ia ingat walaupun ia ragu apakah bagian pudar itu bisa ia cetak sama persis atau akan ia cetak dengan bagian baru yang ia temukan.

"Ya sama aja kek dongeng. Ketemu putri cantik lalu dijemput dan hidup bahagia di istana megah."

Siapa yang tidak menginginkan akhir seperti itu, Harsa sangat menginginkan ending itu. Ending dirinya yang bahagia dengan dia yang terkasih. Bisakah Harsa menjadi bagian dari ending itu?

"Kalau kata gue lo bisa, sekarang aja lo udah kek pangeran. Kurang kuda aja sih."

Harsa hanya ingin menciptakan sedikit komedi ditengah risaknya. Mereka sudah biasa berbagi lelucon, namun kali ini Tarendra tak melihat adanya lelucon disini. Komedi ini... Tarendra ingin ia akhiri.

Harsa mulai kesal karena permainannya sungguh berantakan, ia menyimpan telpon genggamnya dan mulai bergelut dengan pikirannya sendiri. Tarendra yang mulai menyadarinya menawarkan sebuah percakapan sekaligus sebuah kehidupan. Harapannya tadi tak akan ia tulis lagi, kali ini harapan miliknya ia minta untuk menyertainya. Terwujud atau tidak akan tetap Tarendra relakan jika diperlukan.

"Kita udah temanan berapa lama dah sa? keknya lama banget sampai gue aja ngga bisa ngitung."

"Sekitar 15 tahun, kita kan udah temanan dari kecil, beban banget dah punya teman kek lo."

Harapan milik Tarendra di urai, selaras dengan salju yang turun serta angin yang mulai berhembus. Perasaannya ia biarkan teralun pelan bagai melodi pada sebuah gitar yang selalu ia petik saat sedang menikmati angin malam dari jendela kamarnya. Tarendra tak pernah menyangka bahwa semua harapannya akan berjalan seperti ini.

"Harsa... gue memang selalu mengharapkan ending layaknya dongeng yang pernah kita dengar. Bertemu seorang putri pada sebuah kejadian tak berencana dan berakhir bersama disebuah istana megah dan dipisahkan saat sedang menikmati teh hangat dengan genggaman yang bertaut bersama dia yang tersayang.

“Tapi sa..."

Harsa sungguh bingung, apalagi yang Tarendra harapkan saat sebuah akhir cerita yang diharapkan itu bisa saja Tarendra wujudkan semudah daun yang jatuh ke tanah. Bukahkah Tarendra terlihat sungguh egois, dia yang tak pernah mengharapkan sebuah harapan saja dibuat kesal saat mendengarkan rentetan milik Tarendra.

"Banyak mau banget sih lo. denger ya, lo itu Tarendra. Tarendra yang gue kenal itu dia bisa dapatin apa yang dia mau. Semudah itu woy! dan lo kenapa kek pesimis banget dah. Lo tu bisa dapat ending itu, percaya sama gue."

"Berarti... gue bisa dapatin lo, sa?"

Yang Harsa tangkap, Tarendra udah ngawur sekali. Apa dia ngga sadar kalau yang dikatakannya tadi bukanlah sebuah lelucon. Harsa semakin ngga ngerti dengan isi kepala Tarendra.

"Lo mabuk apa gimana? candaan lo ngga lu- “

"Gue serius sa..."

Tatapannya tak berubah, Tarendra masih menatap Harsa yang balas menatap dirinya. Raut kebingungan itu... Tarendra akan berikan jawaban untuk Harsa, manusia yang penuh pertanyaan.

"Harsa... gue dari dulu selalu memimpikan ending dongeng yang diakhir cerita seorang pangeran hidup bahagia dengan seorang putri. Tapi sa... bahagianya gue bukan pada seorang putri. Lo udah pasti pernah dengar istilah barbie dan ken, dan itu ngga berlaku di gue.

Gue lebih suka ken daripada barbie."

Katakan bahwa Harsa sedang bermimpi dari tidur panjangnya. Ia tak pernah berharap apa-apa tapi ini sungguh diluar kendali. Pertanyaanya semakin banyak dan Harsa mual dengan semua sumpalan pertanyaan ini.

"Lo harus tahu satu hal. Dengan lo ngomong kek tadi, lo udah naro harapan sama gue yang ngga pernah berharap. Dan asal lo tau, gue ngga pernah mau berharap karena kenyataan gue lebih pahit"

"Gue menyimpang, Tarendra."

Kalutnya Harsa menjadi, ia yang mencoba mengabaikan kini harus kembali bergelut dengan dirinya sendiri. Permasalahan Harsa terdapat pada dirinya sendiri, dirinya yang menyimpang tak pernah bisa ia terima. Apalagi dunia, Harsa yakin bahwa keberadaan dirinya didunia ini hanya sebagai pajangan untuk sebuah gelak tawa yang manusia lain butuhkan saat hiburan mereka mulai membosankan.

"Gue suka lo, Harsa. Kita sama-sama menyimpang. Lo ngga perlu berharap apa-apa dan gue ngga akan berharap apa-apa lagi. Harapan gue ada pada lo, Sa."

"Cuman sama lo gue bisa ngerasain istana megah di rumah sederhana dan harapan yang banyak maunya jadi kalah dengan lo yang jadi diri sendiri. Harsa... jadi diri sendiri ngga salah, lo berhak atas sebuah cinta dan lo berhak atas hidup lo sendiri."

Kali pertamanya, seorang Harsa yang dikenal tangguh oleh Tarendra menangis di bawah hujan salju hari ini. Harsa sungguh tampan dan Tarendra sungguh dibuat terlena. Harsa kehabisan kata-kata, sumpalan pertanyaan mulai terjawab. Hati Harsa lega, tapi apakah ia pantas untuk ini...

"Kita bisa buat happy ending versi kita, lo bersedia, kan?"

Anggukan kecil dan senyuman yang disertai sebuah tangis menjadi jawaban dari pertanyaan terakhir yang di lemparkan oleh Tarendra. Hari ini dingin tapi dengan adanya Tarendra, Harsa yakin bahwa dirinya akan selalu aman dan hangat.

"Jelek banget lo nangis, gue lamar gini harusnya senang dong."

"Lo nyebelin banget sih jadi orang! gue timpuk baru tau lo."

"Yang penting lamaran gue diterima."

Dan berakhirlah mereka kejar-kejaran dengan saling melempar bola salju satu sama lain setelah Tarendra dengan jailnya mengejek Harsa yang menangis karena pernyataan mengejutkan dari kawannya tersebut. Harsa tak pernah menyangka bahwa ia berhak mendapatkan happy ending miliknya. Detik itu juga, Harsa berhasil untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ia sambut dirinya dan ia peluk dengan penuh kehangatan. Dirinya berhak untuk sebuah bahagia, kita berhak untuk sebuah bahagia

"HARSA JELEK! BERENTI NGGA LO?!"

"CEMEN BANGET LO NGGA BISA NGEJAR GUE, GIMANA MAU JAGA GUE COBA!"

Dan hari itu salju putih serta pohon yang memutih karena diselimuti salju menjadi saksi sebuah lamaran mengejutkan serta sebuah perdebatan kecil dari dua tuan yang saling jatuh cinta.

Komentar