- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Segelas teh ia seruput dari cangkir antik milik pujaan hati. besok-besok ia ingin datang lagi untuk sekedar menikmati teh dibawah sinar rembulan malam dengan dingin yang membara.
“Lantas apa yang membuat mu berhenti?”
Bunyi ting gelas mengisi kekosongan antara mereka, kata orang menyajikan segelas teh itu merupakan bentuk sebuah sopan santun dari tuan rumah pada tamunya. Tapi menurut Joseph segelas teh yang ia terima merupakan perwujudan dari pesan cinta. Jika hanya sekedar ditelan dua atau tiga kali maka kita bisa mengerti bahwa teh ini hanya sebagai bentuk sebuah etika baik. Beda dengan Joseph, teh itu akan ia habiskan untuk sekedar memberitahu bahwa lewat teh ini ia harap tuan rumah menyadari bahwa tehnya selalu diminum habis dengan perasaan disetiap tegukannya.
“Saya tidak mengatakan bahwa saya berniat untuk berhenti.”
Si tuan menyenderkan diri, netranya disinari kerlip cahaya dari pantulan kolam dihadapan mereka. Ia meluruskan kaki dan memcoba memahami akan dibawa kemana pembicaraan ini.
“Hentikan saja, itu hanya imajinasi belaka. Fokus pada dirimu Joseph, jangan terbelenggu pada dunia yang tidak pasti.”
Joseph telah menelan habis tehnya. Segera melempar direksi pada tuan rumah dihadapannya. Malam ini tidak terjadi dua kali dan Joseph mau malam ini imajinasinya memiliki titik terang.
“Kamu belum mengatakan alasan kamu datang kesini, ini sudah larut malam Joseph. Bukankah urusan kantormu telah menumpuk?”
Joseph biarkan ia berbicara dan mengatakan banyak hal sembari menikmati paras indah yang telah tuhan ukir pada seseorang didepannya. Joseph sadar, justru dengan ia yang banyak berbicara terlihat lebih menarik untuk sebuah kecupan singkat.
“Sudah habiskan? kamu cepat pulang, saya ingin istirahat dan sampai jumpa besok di kantor”
Joseph dibiarkan sendiri, sudah ribuan kali Joseph mengunjungi rumah ini dan tetap saja perlakuan tuan rumah semakin lama semakin dingin. padahal waktu pertama kali ia mendatangi rumah ini masih terasa hangat bahkan lantainya saja tidak sedingin sekarang.
“Jangan menghindar Althena, kamu pasti sudah tahu maksud saya.”
Althena tidak bodoh, ia penyandang gelar karyawan paling kreatif dikantornya tak mungkin sebodoh itu. ia tahu alasan Joseph kesini, ia juga tahu alasan Joseph selalu menghabiskan teh buatannya. Althena tahu semuanya. Bahkan ia juga tahu akan berakhir apa ia malam ini.
“Joseph, kamu pasti tahu kita itu salah. cerita cinta yang kamu impikan itu selalu ditentang. Kita cukup realistis saja ya supaya nantinya tidak terlalu sakit. Ucapan manusia itu sakit loh Jo, apa kamu mau setiap harinya diberi kebencian sebagai sarapanmu?”
Joseph tarik tangan Althena, coba yakinkan bahwa cinta antara mereka itu tidak salah. Apa yang harus disalahkan saat mereka yang jatuh cinta memuja cinta mereka sendiri. Yang jatuh cinta itu mereka, lalu kenapa orang lain harus repot?
“Sudah ya? malam ini saya sudah jujur sama kamu. Besok pertemuan kita cukup sebatas kolega kantor. pertemua kita yang seperti ini dicukupkan, ya?”
Joseph masih mencoba mencari celah lewat netra yang ia tatap. Ia selami dengan pelan agar ia tidak melewati barang seinci pun. Selama menyelami netra Althena, ia paham mengapa Althena menganggap bahwa cinta keduanya salah dan pantas untuk dibuang.
Althena, ia takut.
Ia takut dibenci, ia takut dibuang, ia takut dilabeli tidak normal dari perasaannya sendiri. Hingga yang yang terakhir, ia takut menjadi ajang dalam mengutarakan berbagai sumpah serapah serta makian tak beradab.
Joseph mencoba mengumpulkan semua ketakutan Althena, ia ingin jelaskan bahwa normal untuk merasa takut tapi jangan sampai takutnya itu menguasai dirinya. Althena ya dia, bukan milik ketakutan yang ia pendam.
Joseph bawa Althena pada sebuah tenang dimalam penentu mereka. Sebuah kecupan lembut dan manis rasanya ia persembahkan pada Althena seorang. Althena menerima walau jauh didalam hatinya ia ingin menolak perlakuan ini. Namun disisi lain ia juga membutuhkan ini. Malam itu untuk yang pertama kali, mereka bertukar perasaan, bertukar pandangan, serta bertukar ludah.
“Althena, ini cerita tentang kita. Orang tidak perlu terlibat. Mengenai sarapan kebencian, selama tidak saya terima saya masih bisa menikmati sarapan enak dan menikmatinya. Althena kamu lupa? mereka itu manusia, sama dengan kita. Apa yang membuatmu memandang mereka layaknya sebuah tuhan pemilik semesta ini? kita hanya jatuh cinta dan menjalin cinta, tidak ada yang salah, kan?”
Hati Althena berperang hebat, benar kata Joseph. Apa yang membuatnya takut serta tunduk pada omongan manusia yang belum tentu baik. Selama ini ia terlalu patuh sampai ia lupa bahwa ia juga manusia yang punya rasa. Hanya karena manusia lain, ia sampai lupa dengan dirinya.
“Setiap orang berhak mewujudkan keinginan mereka dan saya ingin mewujudkan keinginan saya dengan kamu, Althena.”
“Lantas bisakah kamu memberi tahu saya, apa yang kamu inginkan?”
Althena terpejam sebentar, menarik napas dalam dam mengusap bulir sisa air matanya yang sedari tadi tumpah. Ia mantapkan hatinya, dan menatap kembali pemilik nama Joseph tadi.
“Saya ingin bersama kamu, Joseph.”

Komentar
Posting Komentar