Un Choix

Ambivalen


Stigma dunia memang tak bisa dilawan, namun jatuh cinta masih tetap menjadi hal yang indah, bukan?

Jatuh cinta sangat mustahil untuk dihindari, namanya jatuh, untuk bangkit saja sudah susah. Namanya jatuh cinta, mawar dan belati tak ada bedanya. Lantas untuk kita dua manusia yang mau lawan dunisamasih nearni menari dengan pedang ditangan masing-masing. Yang entah kapan sewaktu-waktu akan menusuk salah satu dari kita.

Jawabannya hanya dua, tetap menari atau sudahi?

“Kalya, janji tetap disini ya? sama saya?”

“pasti Raya”

Kalya, ternyata kita salah. Kalya, kita dibilang menyimpang.

Pegangan saya mohon jangan dilepas, lawan dunia itu susah namun dengan Kalya saya sudah pasti bisa. Kan?

Kalya, wanita saya, dia sungguh hebat, mampu buat goresan menjadi indah

buat hati bergulat, di atas kertas tempat tuang resah.

Susah senang bersama, lupakan dunia bersama ancamannya.

Untuk sesaat sempat terpikir, kemana lagi kita pergi demi sebuah pengakuan sederhana atas cinta yang luar biasa ini?


“Raya, aku tidak bisa. Lawan dunia susah, kita menyerah saja, ya?”


Pada akhirnya pegangan saya dilepas, sosoknya menghilang dalam sekejap,

saya kehilangan dunia saya, saya kehilangan Kalya, wanita saya.

Saya ngga mau menyerah, namun Kalya sudah lelah.

Lawan dunia tak semudah itu.

Berbekal perasaan dan pegangan yang kuat tak cukup untuk melawan stigma dunia dan seisinya.

Kalya, hidupnya dibuat hancur perlahan dengan kata yang tak seharusnya diucapkan.

Lantas saya yang sudah kamu susun utuh terpaksa hancur dan terurai lagi. Sesaat hati ingin berteriak “Kalya, tolong saya.”

Raganya sudah tidak disini, pada akhirnya hanya hampa yang menggandeng dan merengkuh raga saya.

Sulit untuk menggantikan posisi itu,

Kalya pemilik segalanya saya, namun ia sudah pergi entah kemana.

Untuk Kalya, hati dan perasaan saya tolong kamu bawa ya?

Agar hampanya saya disini tidak sia-sia.

Namun, sejujurnya, bayangan mu masih tergambar jelas disini.


“lantas saya harus bagaimana Kalya?”

Komentar