Un Choix

Anna Dan Kehilangan

 


Pandangannya menyebar, melihat apa yang bisa dilihat, mengingat apa yang bisa dikenang. Kumpulan manusia memenuhi tempat hiburan malam, menikmati segala momen bersama ia yang terkasih. Anna entah mengapa ia disini pola pikirannya berantakan sama seperti hatinya. Dingin menyelimuti diri menciptakan kebulan asap setiap hembusan napas. Berjalan tanpa arah, tanpa teman, serta tanpa harapan. Membuat dingin semakin mencekiknya.

Johnny suh, pria dari Chicago yang katanya kuat sedang berjalan menyusuri kerumunan. Hatinya berkata bahwa bagian hidupnya ada di sini. Pelan ia mencari, menelaah, dan mengamati. Tak peduli dingin malam, yang ia pikirkan wanitanya menghirup udara di tempat ia pijak.

Perempuan malang itu terpanggil, merasa seseorang mencarinya. Kakinya yang telah memar dan wajah pucat membuat dirinya semakin menawan. Keduanya bertemu bagai takdir yang telah tertulis rapi. Johnny tak merubah ekspresinya, begitu juga dengan perempuan dihadapannya. pertanyaan mulai bermunculan, apa yang sebenarnya Johnny pikirkan mengenainya.

Berjalan beriringan, kaki selaras dan detuman hati berdetak stabil, malam dingin kian menghangat. Sesekali berbicara singkat sekedar melawan keheningan di dalam hiruk pikuk malam. Hingga akhirnya Johnny menawarkan dirinya untuk menjadi pendamping hidup. Anna bingung, mereka yang baru bertemu kenapa sudah berani mengajak hidup bersama. Anna tak tertarik dengan pernikahan, ia sama sekali tidak berniat untuk menikah hingga malam itu ia dibuat ragu atas pilihannya. Entah apa yang membuatnya ragu, sebab pria dari Chicago ini terlihat tidak main-main.

Jika ditelaah, Johnny bagaikan pria penyelamatnya. Disaat Anna takut akan pernikahan, hanya Johnny yang memberanikan diri untuk mengajaknya melawan rasa takut hingga tuntas ke akarnya, lucu bukan?

Tanpa sadar ia menerima ajakan untuk hidup bersama itu. Johnny Suh dan Anna resmi menjadi sepasang pada sebuah pernikahan sederhana yang penuh dengan cinta.

"Kok bisa sih kamu nikah duluan?"

Kerabatnya minta sebuah jawaban, Anna ini, orang yang tidak tertarik menikah malah sekarang memegang gelar istri dari seorang Johnny Suh, pria dari Chicago.

"Ngga tau, dia langsung lamar. Saya iyakan saja."

Anna bermain dengan teman sedangkan Johnny setia menunggu, jasnya ia gantung dan pandangan fokus ke laptop serta jangan lupakan kacamata yang membuatnya dua kali lipat lebih menarik. Johnny bekerja dan Anna bersenang-senang, kata Johnny tak apa apapun yang membuat Anna bahagia tentu akan ia kabulkan. Setelah menikah pun, kebebasan Anna menjadi dirinya sendiri tidak direbut, Johnny membiarkan ia menikmati hidup sebagai manusia yang tentunya juga dengan dampingan dirinya. Baginya, Anna merupakan manusia rapuh, kapan saja bisa hancur dan Johnny siap menyambutnya dalam keadaan untuh maupun hancur.

Semua berjalan lancar, hingga pagi tak begitu sama. Johnny sudah bersiap sedangkan Anna masih berdiri dengan tidak nyaman. Tuhan, ada apa lagi dengan dia? Selama ini baik-baik saja, namun mengapa rasanya sangat tidak enak.

"Ya tuhan, kamu keliatan beda."

Anna membawa dirinya ke hadapan cermin, memandangi pantulan diri. Benar, ada yang beda.

"Jo, i think i'm pregnant."

Suatu berita kebahagiaan di pagi yang cerah, Johnny tak bisa sembunyikan senyumnya, pelan ia berjalan menyambut sang istri yang kian hari makin cantik, ditambah lagi si kecil yang tinggal di dalam sana. Tak ada yang bisa ia katakan, Johnny bahagia. Sangat bahagia.

Johnny cukup berhati-hati dengan istrinya, hingga suatu insiden terjadi. Anna benar-benar diajak adu mulut dengan seorang yang mereka kenal hingga saat hendak berdiri, Anna terjatuh sembari mengeluh sakit. Yang ditakutkan Johnny terjadi, namun semoga saja masih bisa ditangani karena jelas sekali Anna itu mudah stress, segala masalah akan menjadi parah dalam pikirannya, Johnny tentu tak ingin hal itu terjadi.

Johnny yang melihatnya dengan sigap membantu ia berdiri dan mengatakan banyak kata penenang. Ia yang cukup waras harus buat istrinya kembali ke batas aman. Karena saat ini Anna hampir saja melewati batas amannya.

Johnny itu dingin, sedingin malam mereka bertemu, waluapun begitu ia akan tetap hangat pada Anna yang katanya rapuh itu. Semua berjalan lancar, Johnny bersantai dan menikmati kopi malamnya hingga secercah kabar datang,

Anna dinyatakan hilang dan tidak ditemukan.

Komentar