Un Choix

Break Up.

 


“Bilang sekali lagi dihadapan saya.”

Khanza terdiam… lebih tepatnya tercengang. Ah.. ia sadar baru saja ia membakar sulut emosi Jonathan, sang tuan. Tatapannya ia buat lebih tegas, agar tak jatuh tunduk pada tuan Jonathan dihadapannya.

“Aku mau putus.”

Jonathan dengan santai menyembunyikan tangannya di saku, lihat saja tatapannya sungguh merendahkan, menyeringai bagai siap menerkam.

Khanza sangat paham, namun ego sudah ia bangun kuat. Setidaknya untuk saat ini.

“Benar itu mau mu?”

“Iya.”

Jonathan melihat kepalan tangan Khanza. Kepalan mungil yang begitu lucu yang sewaktu waktu bisa mencakarnya.

Khanza itu lucu, hobinya suka cari perkara. Masalah seperti ini bukan pertama kalinya, justru udah menjadi konsumsi sehari harinya.

Khanza…Khanza… siasat mu itu mudah di tebak,

segala rencana tercium semerbak.

“Apa tak ingin kamu ubah? kamu masih bisa merubah keputusan mu, Khanza.”

“Tidak, keputusan ku sudah valid. tidak akan dirubah. ego ku tak selemah itu tuan Jonathan.”

Tatapan Khanza sungguh tegas, kepalannya diperkuat lagi. Egonya dibuat kuat. Tatapannya menyalang, seakan berteriak bahwa ia siap untuk perang.

“Saya tidak merendahkan mu Khanza. Itu sebuah peringatan. Penyesalanmu yang nanti bukan lagi urusan saya.”

Jonathan maju selangkah, dengan angkuh ia tegakkan bahu. Hari ini cukup berat ternyata namun Khanza semakin menarik untuknya. Jika orang orang tunduk pada Jonathan, hanya Khanza yang berani berdiri tegak dengan tatapan menyalang tanpa ada rasa bersalah. Jujur, Jonathan suka itu.

“Jika kamu lupa, kamu sudah menandatangani kertas kita. Jika kamu lupa, akan saya ingatkan.”

Jonathan tatap kembali mata tegas Khanza, lihat saja seberapa lama ego seorang Khanza bertahan dalam mengahadapi seorang Jonathan, tuan dari segala tuan.

“Kertas yang menyatakan jika Khanza menyatakan dan memberi ungkapan sebuah kata yang tak seharusnya dikatakan, maka ia berhak untuk diberi teguran dalam bentuk apapun.”

“Kamu tidak punya kuasa untuk dirimu, Khanza. Saya lah pemilik kuasa dirimu itu.”

Tatapan Khanza melemah, sungguh mudah bukan?

Tentu Jonathan tuan dari semua tuan punya seribu satu cara untuk membuat semua manusia dihadapannya tunduk patuh bagai anjing yang penurut.

Nyawa Khanza tidak dalam bahaya, namun dirinya untuk malam ini sudah pasti tidak aman. Duduk bersimpuh sudah menjadi awalannya. Malam ini Khanza diingatkan pada sebuah kertas yang berisi pernyataan agar dirinya tetap mengingat kuasa seorang Jonathan. Khanza menunduk, bahu diturunkan sangat rendah dengan mata yang menyembunyikan penyesalan agar tidak berakhir jatuh pasrah di ranjang kamar.

Khanza yakin apa yang terjadi pada dirinya dan sang tuan bukan dalam atau atas nama cinta. Harga diri dan kualitas itu penting, ia berani berbuat ia juga yang berani menerima.

Jatuh di kasur tak akan senikmat itu jika tidak dengan Jonathan. Di atas ranjang sudah pasti bertukar lidah hingga pertemukan kulit dan mengagungkan nama masing-masing. Namun tukar perasaan sungguh mustahil untuk terjadi diantara Khanza dan Jonathan. Khanza tak pernah mengajak hatinya untuk bertukar rasa di ranjang, hanya Jonathan yang melakukannya, tanpa sepengetahuan Khanza yang sibuk pada kenikmatan.

Jonathan tidak keberatan untuk memberi pelajaran pada Khanza karena pada akhirnya semua akan ia dapatkan dengan percuma sembari persembahkan surga di atas ranjang Khanza ataupun di atas ranjangnya. Salahnya ia terlalu asik menyatukan diri sembari menjatuhkan hati hingga lupa bahwa seorang  Jonathan masih punya tanggung jawab sebagai pasangan baik untuk si calon pendamping.

“Lepaskan aku Jonathan dan jadilah suami yang baik.”

“2 hari lagi adalah pernikahan mu.”

Komentar