Un Choix

Bucket List


“Huh… dingin” Radeva masih fokus menarik gas, tujuannya sudah mulai dekat. bucket list yang telah terpendam akhirnya terwujud juga. Jaket denimnya tak berhasil melawan hawa dingin, tentu saja karena ia berada di daerah puncak. Seharusnya ia kenakan sweater saja jika tahu akan sedingin ini.

“Selamat datang mau ikut tour yang mana?”

Aturan yang dibuat harus dipatuhi, selama berjalan kameranya ia simpan. Belum saatnya ia menangkap gambar. Kakinya ia bawa berkeliling, melihat lebih dekat barang peninggalan yang masih utuh hingga sekarang. Sungguh takjub bagaimana barang-barang tersebut masih terlihat kokoh walau sudah berumur ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Radeva itu orangnya paling suka sejarah, ia suka yang berbau kuno. Berjelajah seperti ini tak akan membuatnya lelah, justru rasa semangatnya kian meningkat disetiap penjelasan dari sang pemandu.

”Perjalanan kita sudah berakhir dan dari sini sudah boleh mengambil gambar ya”

Kini kameranya sudah bekerja, satu persatu ia tangkap. Langkah demi langkah hingga sorot kamera terfokus dengan yang di depannya. Fokusnya tak ia alihkan karena Radeva masih mau melihatnya.

Hingga ia dibuat gugup tak kepalang. Gadis di depannya membalas sorot kameranya. Sial, Radeva semakin gugup saat gadis itu mendekat ke arahnya. Ada rasa aneh yang muncul setiap ia melihat gadis itu. Kesan pertama Radeva sungguh aneh.

“Kamu foto aku, ya?”

Radeva masih diam, matanya benar-benar terkunci pada gadis dihadapannya.

”aneh..”

Radeva bingung, kenapa ia ngga bisa berkata-kata? kenapa ia gugup? dan yang paling membuatnya semakin bingung ialah gejolak aneh pada perasaannya sendiri.

Radeva bernapas lega saat perempuan itu mulai menjauh namun entah kenapa tubuhnya memaksa untuk mengejar si gadis yang telah mencuri perhatiannya. Seolah mengatakannya untuk jangan dilepas.

“Maaf gue ngga foto lo, tadi ngga sengaja liat lo sendiri”

Penjelasan Radeva memang ngga masuk akal namun hanya itu cara agar bisa berinteraksi dengan gadis didepannya ini. Baru kali ini radeva merasakan letupan aneh pada dirinya. Hanya karena gadis ini, gadis di depannya. Gadis yang sedang menatapnya aneh.

“Gue Radeva” 

“Kala…”

Sambutan tangan radeva dibalas, apakah kesan pertama Radeva akan membaik? atau ini pertanda hal lainnya?

“Lo sendirian?”

”Iya”

“Yuuk bareng, gue juga sendiri”

Kali pertama pertemuan mereka juga menjadi awal sebuah hubungan yang Radeva sendiri pun tak pernah menyangka. Padahal sudah terlihat diawal bagaimana bodohnya Radeva yang tak sadar bahwa ia sedang jatuh cinta. Serta bagaimana Ullen Sentalu membawanya bertemu pada masa depannya sendiri. Sungguh unik bagaimana sejarah mempertemukan mereka, dari Radeva yang ingin mewujudkan bucket list dan Kala yang ingin tahu banyak.

Komentar