Un Choix

Buket Bunga Mawar

 


Mahesa, jika diartikan dalam bahasa Sansekerta nama itu menyebutkan sebuah pemerintahan yang agung atau sebuah aturan yang kuat. Persis dengan namanya, kini pria dengan pakaian rapi dengan jas berwarna gelap yang selaras dengan sepatu khas kantoran telah berdiri tegak dan berwibawa di sebuah tempat hamparan hijau penuh bunga warna-warni. Kedatangannya bukan untuk bermain atau berpiknik ria, sudah jelas dia yang terlihat gagah dengan sebuket mawar di genggamannya hadir disana untuk bertemu dengan dia yang tersayang.

Ini pertama kalinya untuk seorang Mahesa datang serta menemui gadisnya yang sungguh cantik serta indah eksistensinya. Perasaan takutnya semakin menyelimutinya dengan erat bagai lilitan benang baru yang belum dibuka maupun disentuh. Takutnya tak berjejak serta tak bersisa, Mahesa katakan ia kelihatan seperti orang bodoh saat ini.

Perlahan bisa ia lihat, senyuman indah itu... senyuman yang selalu menjadi alasan kenapa seorang Mahesa harus pulang walau hanya untuk sekedar makan malam singkat disebuah ruang kecil yang dingin. Wanita ini juga yang menjadi alasan mengapa seorang Mahesa rela menghabiskan waktu untuk berfoya-foya pada kesenangannya.

Kini mereka berhadapan, Mahesa serahkan mawar merah yang ia beli sebelum mengunjungi tersayangnya dengan bungkusan yang sungguh sederhana namun terlihat berkesan. Wanita-nya ini hebat, sungguh hebat. Wanita-nya tidak pernah mengeluh atau bahkan marah pada dunia yang banyak ketidak-adilannya ini. Mahesa yang sering memaki dunia saja tertegun saat menyadari bagaimana wanita ini bersyukur pada dunia yang ia tempati ini.

“kalau cuman ngeluh ya… ngga bakal bisa membantu kamu. Selama kamu mengeluh, banyak sekali waktu yang terbuang. Padahal waktu yang terbuang itu bisa kamu gunakan untuk membuat sebuah cerita yang penuh nuansa. Jadi stop ngeluh, oke?”

Belah Mahesa melengkung indah, mengingat dialog singkat wanita dihadapannya. Senyum yang terukir secara tidak sengaja itu membuat Mahesa semakin tersayat. Lukanya hanya satu tapi sakitnya sungguh menguasai dirinya.

Tangannya mulai teralur membelai sayang si cantik yang ia kunjungi hari ini, sungguh bukan ini yang Mahesa mau.

“Halo sayang, seperti biasa kamu selalu cantik. Ini mawarnya udah aku taro, gimana? kamu suka kan? benar kata kamu, mawar itu cantik tapi ada sebuah sakit yang ditutupi rupa cantiknya. Kamu bukan mawar lagi, sayang. Ngga ada lagi sebuah sakit, kini hanya rupa cantik yang ada sama kamu. Sayangnya mahesa... aku pergi ya, sweet dreams... cantiknya Mahesa”

Mahesa tak pernah membayangkan, dirinya yang membelai sebuah nisan dengan nama wanita yang tertera rapi beserta dengan tanggal kelahiran serta tanggal kematian. Tak lupa potret wanita dengan bingkai hitam berukuran sedang. Kini bukan senyuman indah yang akan menghiasi tempat itu, melainkan sebuah buket bunga mawar segar dengan tangkai berduri yang akan menghiasi tempat wanita-nya dengan bungkusan sederhana serta sebuah pita dengan warna yang selaras.

Mahesa pamit, ia biarkan wanita miliknya tidur. Ia relakan cintanya istirahat dan terbaring dengan sebuah nama.

Komentar