Un Choix

Duka Yang Tertunda


Tubuh disampul peluh, pikiran sudah terlanjur penuh. Narendra kumpul sisa kesadaran bawa diri ke ujung ranjang.

“pusing, kepala ku berat… aku cape” katanya dengan badan diperaduan, kaki terkulai lemas dan mata mulai memanas. Dirinya makin direngkuh dingin malam.

“apa aku mati aja? toh ngga ada yang peduli kan?”

Hatinya sudah mati, suara kian serak harapan pun kian sirna. Rasa-rasanya ia sudah diambang batas. ingin terjun bebas demi hentikan beban.

“halo…kenapa?”

“Narendra, aku tau kamu mau mati tapi bisa habisin waktu sama aku dulu ya? mungkin- mungkin kamu berubah pikiran”

Arjuna disana, dengarkan kekosongan narendra yang ingin menyerah. Gugupnya bersahutan dengan degup jantungnya, namun tenang sudah pasti ia bagikan.

Narendra harus ia cegah agar ngga mati sia-sia. lebih tepatnya agar ia tidak sendirian karena narendra dunianya, harapan yang ia wujudkan.

Kalutnya Narendra akan Arjuna terima, ia rengkuh dan dipeluk kuat serta panjatkan doa agar narendra memilih hidup yang panjang.

“Narendra ayok siap-siap, aku sudah didepan. aku bawa hoodie lebih, barangkali kamu butuh sesuatu yang baru. Ayo ketemu, kita habisin waktu”

Raga dibawa bangkit, rasa asing kian dipadami. Narendra mulai paham bahwa ia sedang putus asa dan butuh kasih sayang.

Dan Arjuna disana, bersedia berbagi kasih serta sayangnya. Tubuh mungil dibaluti hoodie kian jelas dan rasanya kian membucah. Tak ada kata lain selain menangis dan mengadu.

“Narendra kamu ganteng. Narendra tau, aku selalu kangen kamu, aku selalu mau liat kamu. Jadi jangan pergi dulu ya? jadiin aku alasan hidup mu ya”

Narendra semula memang mati rasa, namun kalimat barusan buat ia ingat dunia. Ingat rasa dan risaknya. Ia mau menangis saja, jalan-jalannya nanti saja karena Narendra yang sudah bulat tekad untuk tetap hidup.

“iya Narendra, nangis sepuasnya ya. Aku bakal disini sampai kamu lega ayo masuk dulu”

“Arjuna aku kalut beneran, aku rasanya cape. pikiran ku berhamburan, aku rasanya tersesat. Arjuna risak ku boleh aku bagi ke kamu ngga? aku ngga sanggup tanggung sendirian”

Narendra masih keluarkan apa yang ia rasakan, arjuna tangkap dengan pengertian. Narendra masih mengais oksigen, sudah dua kali juga ia terbatuk dalam tangisan. Matanya yang kian membengkak membawa kesan sendu sekaligus teduh. Narendra cukup sempurna, bukan?

“iya Narendra kita masuk dulu ya. Ceritanya lanjut didalam, disini dingin. Aku mau peluk kamu”

Genggaman mengerat, ada netra yang indah untuk dipandang. Bulu mata lentik masih basah akibat tangisan, dikecup penuh cinta oleh arjuna yang mabuk akan cinta. Pilunya diusir paksa agar hati Narendra kian merona.

“Arjuna aku cape”

“Narendra, bagi ke aku ya. Beban mu biar aku bawa sebagian jadi jangan mati…ya?”

Pelukan erat jadi penutupnya, Narendra masih menangis dalam dekapan hangat Arjuna. Kepalanya diusap pelan layaknya barang mahal.

Sesekali ia kecup puncaknya seakan mengatakan :

Jangan mati Narendra, aku belum mau berduka.

Komentar