- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Gini aja ngga bisa, sia-sia saya sekolahin kamu. Buang-buang uang tau ngga!”
Tanggapan yang lebih tua, katanya sia-sia. Perihal nilai ngga bisa di ganggu gugat. Lantas Kala yang baru menginjak umur 17 bisa apa? Yang cuman tahu dewasa harus lebih sabar, dewasa artinya banyak merelakan dan direlakan.
“Tapi Kala dapat 90 yah. Kala udah berusaha, kata guru juga udah bagus.”
“Bagus darimana… ngawur banget kamu. Yang sempurna dan bagus itu 100. Masa gitu aja kamu ngga bisa? kurang apa ayah kasih kamu les tambahan. Oh, atau selama ini kamu main- main iya?!”
Ayah murka lantas Kala cukup siapkan hati yang kuat, perihal ayah ia tak bisa apa-apa karena gadis baru dewasa tak boleh lewati batas.
“Engga ayah, Kala belajar.”
“Mulai sekarang kamu ngga akan saya kasih makan, cari sendiri biar kamu tahu rasanya.”
Cari makan sendiri artinya tidak ada lagi masakan rumah, cari makan sendiri artinya kerja banting tulang. Kata ayah itu paten, tak bisa di ganggu gugat. Kalau A ya A ngga akan berganti jadi B atau Z. Kala masuk kamar, dengan hati yang patah dan raga yang kian melemah. Menghadap ayah yang berbekal kata makian ternyata tak cukup untuk ia yang hanya menyiapkan hati yang tegar. Masuk kamar untuk ketenangan, disusun langkah berat serta retak. Malamnya ditutup dengan kebisingan dan ini yang kesekian kalinya.
‘Lantas ia harus apa?’
Batin gadis muda yang raga diperaduan namun jiwa pergi melayang. Entah kemana karena dirinya tersesat dalam kabut yang gelap. Menatap langit sambil mengatur napas yang sudah tercekat akibat air mata yang mulai memaksa keluar. Sesekali tersedak ludah yang kian asam akibat perut belum terisi makanan.
“Saya agak ragu karena kamu masih SMA”
Tanggapan pemilik cafe yang baru membaca rincian informasi tentang gadis yang baru menginjak 17 tahun. Katanya ia ragu, sebab cafe adalah tempat yang serius, karena komitmen dijunjung penuh. Tak bisa masuk dan keluar seenaknya. Jika menjatuhkan diri disini maka harus siap lahir batin untuk bekerja dibawah tekanan. Dan harus sadar bahwa tekanan anak SMA bisa lebih dari sekedar belajar dan mengerjakan tugas.
“Saya bisa, pak. Pasti. Jika bapak ragu bapak bisa liat kinerja saya selama seminggu dulu. Jika kinerja saya bagus tolong pertahankan saya, pak.”
Disini terang, Tak terlalu ribut namun tak terlalu senyap juga. Cafe sudah menjadi sandaran tepat untuk sekedar bersantai atau menghabiskan waktu dengan lembaran kerjaan. Kala daftarkan diri demi sesuap nasi. Secercah bantuan untuk ia yang masih duduk di bangku SMA. Kala yang harusnya menggendong tas kini dipaksa membawa beban hidup juga, katanya biar tahu rasa namun apa dosa seorang gadis yang baru menginjak umur 17 yang sudah dipaksa keadaan kelewat kejam, yang baru tahu dunia dewasa yang sebenarnya tak sepenuhnya dewasa.
Sebelum cafe ia sudah mendapat tawaran, tentu saja ia terima dengan sepenuh hati sebab diri harus dihidupi sendiri karena ayah sudah lepas tangan dan tanggung jawab katanya malam itu. Kala masih beryukur bahwa ia bisa hidup dibawah atap rumahnya, bukan dibawah jembatan yang sempat terpikir olehnya. Bahunya kian ringan sebab beban mulai perlahan ringan, ya setidaknya bahunya hanya memikul sebagian, sebagiannya lagi dipikul pekerjaan. Langkahnya semakin jelas, pulang ke rumah harus persiapkan diri lebih kuat, minum vitamin agar tak gugur ditengah jalan.
Sesaat sebelum cafe, ruang guru lebih dulu meringankan bebannya.
“Kala.”
“Iya bu?”
“Ini saya dapat tawaran untuk memberikan bimbingan belajar untuk anak SD yang kebetulan anak temen saya, dan saya teringat kamu, gimana? kamu tertarik ngga buat ngajar?”
Ada kurva yang tertarik menampilkan harapan yang diberi. Kala yang bebannya tersampir perlahan meluruh dari diri. Masih ada hari baik katanya, seperti hari ini contohnya. Sekarang sudah dua yang akan ia ceklis, satu untuk di cafe dan satu lagi bimbingan les.
“Untuk biayanya bagaimana ya bu?”
“Ah…tentu akan diberikan padamu sepenuhnya. Dan akan diberikan rutin setiap bulan.”
Kala tak pernah mencaci tuhan, apa yang ia rasakan merupakan garis takdirnya lantas ia pun menerima dengan hati yang lapang dan raga yang dikuatkan. Ia harus kuat supaya ngga mati ditengah jalan. Kalau bisa kuat, ia bisa buktikan ngga semua yang 100 itu sempurna dan ngga semua yang tidak 100 tidak sempurna. Karena yang sempurna bisa dari hal yang sederhana dan cukup menurutnya, layaknya bernapas saat ini.
Kala pulang dengan beban yang kian meringan. Katanya nggapapa hidup memang banyak kejutan dan kadang harus ditelan mentah-mentah. Kala semakin siap, tentang besok yang akan datang dan seterusnya yang menyimpan kejutan. Pulang sebentar untuk istirahat karena Kala hanya manusia yang punya batasan tenaga.
“Selamat datang, mau pesan apa?”
Kala terlihat rapi dengan apron cafe yang tersampir, senyum indah ia sebarkan agar pelanggan kian menghangat. Diluar cerah pertanda bahwa Kala harus bekerja lebih keras. Jarinya menari lincah, memilih pesanan dan susunan kata yang dilontarkan sebagai pancingan untuk pelanggan tersayang.
“Mau nambah cake nya kak? kebetulan kamu ada promo beli minuman gratis cake.”
“Boleh deh, yang coklat ya.”
“Baik atas nama siapa?”
Pelanggan yang sedari tadi sibuk menatap hp kini melempar direksi di depan yang disambut senyuman Kala sebagai barista yang bertugas. Senyum dan sapaan itu wajib agar pelanggan merasa tersambut. Pelanggan tadi membeku, melihat wajah yang tersipu lantaran ditatap sekian lama. Tak berkedip namun dipaksa berkedip.
“Maaf kak, atas nama siapa?”
“oh… sorry. Radeva.”
“Ditunggu ya kak, nanti akan saya panggil.”
Bahkan tuhan pun berpihak pada garis takdir keduanya. Seorang Radeva yang tak pernah jatuh cinta malah dibuat ragu perihal hati. Wanita tadi menarik atensi nya. Kala yang hanya mengerjakan tugas tak sadar telah mencuri hati pelanggan. Cukup unik, bukan?
Pertemuan pertama yang didukung tuhan dan disambut meriah oleh keadaan. Radeva tak percaya takdir namun tuhan punya cara lain.

Komentar
Posting Komentar