- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"kala, kamu ingat ullen sentalu?"
Radeva ajak Kala mengulang. Tempat mereka berjumpa yang tak seharusnya dilupakan. Di ajak mengingat yang semoga saja perempuannya ini tidak lupa.
"tentu saja aku ingat, ada apa?"
Radeva mengelus pelan surai lembut Kala, sabar menunggu lanjutan jawaban. Kalau bisa jawabannya yang bagus agar ia tak jatuh cinta sendirian.
"tidak apa-apa"
"rencana tuhan itu benar-benar indah, ya?"
Kala tatap lekat netra Radeva. Radeva didepannya terlihat lebih menuntut. Kala elus pelan pipi halus itu, keluarkan semua perasaannya karena hari ini ia akan mengulang kembali semua yang ada di Ullen Sentalu.
"tak pernah terpikirkan sekali pun bahwa aku akan jatuh pada pesona mu. Pesona seorang Radeva"
Selain ingin banyak tahu, kabur juga merupakan alasan kedatangannya. Tak mungkin seorang Kala tahan untuk tinggal di dalam rumah penuh ancaman. Pertemuan dengan Radeva benar-benar diluar pemikirannya. Niat hati yang ingin menyendiri malah di kacaukan oleh kedatangan seorang Radeva.
"Kala itu namanya apa?"
"kalau kesini boleh ngga?"
"disana enak ngga?"
Kalau bisa bilang—ah tidak ia memang benar-benar menyesal. Bagaimana tidak menyesal, Radeva terus menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang jawabannya sudah jelas tertera disana. entah untuk sekedar basa basi namun ini kelewat batas untuk Kala yang irit berbicara.
'kamu tau, aku pikir aku ngga bakal sama kamu karena kamu berisik.'
"halo kala"
"iya, kenapa?"
"temenin ke toko buku yuk! di kota gede ada toko buku yang keren"
Senin hingga minggu, semuanya hampir diisi oleh Radeva. Kala tentu tak menolak. Aneh tapi begitulah, daripada kabur ke Ullen Sentalu ada lebih baiknya ia kabur dengan menghabiskan waktunya bersama Radeva.
'Radeva, kamu benar-benar penyelamat.'
"kamu tau, hidup ku benar-benar berubah setelah pertemuan kita disana. satu hal yang buat aku senang bahwa kamulah yang membawa perubahan itu. terima kasih"
Pertahanan Kala runtuh perlahan dan Radeva mulai paham. Kala yang biasanya berlari juga butuh tempat untuk berhenti. Dan Radeva telah menjadikan dirinya sebagai tempat itu. Jarinya perlahan menghapus air mata yang turun teratur, dikecupnya pelan kening Kala seakan memberi pesan bahwa dirinya tak perlu berlari lagi.
"jadikan aku tempat kamu berlabuh yang tanpa kamu minta pun akan aku berikan, Kala. kamu tak perlu kabur lagi, karena rumah yang kamu inginkan akan penuh dengan cinta tanpa adanya ancaman"
Kala menangis, jatuhkan air mata di pundak kekasih. Dengan Radeva ia dibuat tenang, bersama Radeva ia senang.

Komentar
Posting Komentar