Un Choix

Istirahat


Jari dipaksa menari namun Althena tak sekuat itu, ia tak sanggup. Pekerjaan terlalu menumpuk, dirinya sudah terlalu rapuh.

"Aku harus apa? Kerjaan ku bagaimana? Tuhan bantu aku" perlahan kesadarannya menghilang, racauannya makin jelas dalam tidur yang tak nyenyak. Didepan sana masih setengah kata yang harus dirangkai demi menyambung nyawa.

"Ngga...ngga bisa, harus selesai. Harus."

Althena paksa jarinya menari lagi, nafas sudah tak beraturan, namun detak jantung masih seirama dengan suara ketikan keyboard. Jika bukan karena harapan, dirinya pasti sudah tergeletak diatas kasur bersama mimpi indahnya.

Malam ini lebih dingin, namun tubuh Althena sudah biasa. Angin dingin seperti ini akan berlalu bersama kesadarannya. Rasanya Althena sudah diambang batas, putus asa dan gelisah terangkum jadi satu dalam dirinya.

"Althena, hey sayang... berhenti dulu. Ada aku disini."

Joseph bersama sentuhan lembutnya, bawa Althena ke ambang kesadaran.

Joseph elus pelan, tenangkan riuh pikiran Althena. Joseph sejujurnya gelisah namun Althena harus tenang dulu.

"Sayang kamu masih punya banyak waktu, kenapa terburu-buru hm?"

"Jo ngga bisa, mereka bergantung padaku. Tapi aku manusia bukan robot. Aku harus gimana? Jo aku ngga kuat, ngga sekuat itu. Jo aku harus bilang apa? Mereka taruh harapan padaku."

Althena coba raih Joseph, yakinkan bahwa ada yang salah dalam dirinya. Pukul kepala berkali-kali, menangis pilu tak berhenti.

Joseph paham karena ia juga seorang pekerja, racauan Althena masih dia dengar dengan gelisah yang ia tutupi sedemikian rupa. Joseph gelisah namun Althena masih jauh dari kata tenang.

Joseph sodorkan segelas air, ia tatap Althena yang minum bak kerasukan. Althena ini memang hebat dan Joseph makin jatuh hati dibuatnya. Althena masih dengan kalutnya dan Joseph dengan rasa cintanya. Saling melengkapi malam mengisi sunyi kota dalam rumah sederhana.

"Althena sayang, tidak apa jika berbuat salah. Jangan pernah takut karena kamu manusia layaknya mereka. Althena sayang, beristirahat sebentar ngga ada salahnya kan? Jangan memaksakan diri, aku jadi sedih."

"Ngga bisa Jo, aku baru setengah kata kalau ditunda aku makin kehilangan kata. Jo ada yang salah dengan kepala ku, aku ngga bisa berpikir, Jo aku kenapa? Aku harus bagaimana?"

"Althena, temani aku bobo ya? Nanti aku bangunkan jadi kamu bisa lanjut kerja. Mau kan temani aku bobo?”

Layaknya sulap, dengan mudah Althena mengangguk dan ikut ke kasur bersama Joseph yang gelisahnya mulai diredam tenangnya Althena. Althena mulai tenang, tahu bahwa ia lelah dan butuh istirahat.

Mata Althena menyayu, mendayung menuju mimpi dalam peluk. Joseph pisahkan beberapa helai rambut, malam ini dingin namun keduanya saling memiliki. Diiringi dengan kalimat penuh cinta serta peluk hangat buat Althena yang sesat di sepertiga malam.

Malam Althena memang berantakan, dinginnya tak kepalang buat Althena sesat dijalan. Namun Joseph punya cara dan bawa pulang Althena kepelukan hangat dibawah atap rumah sederhana milik mereka.

Komentar