- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Barusan setelah kelas ada pernyataan,
“Lo ngga laki kalau belum pernah party di club. Lemah banget…. cupu”
Kesha dipermalukan, diinjak layaknya kotoran. Jelas ia ngga terima soal gender tak bisa disenggol sembarangan. Matanya memanas, tangan dikepal sebab hati ngga terima. Kesha sangat ingin melawan namun ini tentang harga diri maka sebisa mungkin ia perjuangkan.
“Kesha ntar malam nonton bareng yuk, katanya kamu mau nonton drakor baru
kebetulan malam ini aku luang. Kamu mau aku bawain apa, hm?”
“Jeka maaf keknya ngga jadi, badan ku rasanya ngga enak. Aku mau tiduran aja nontonnya dilain waktu aja ya.”
“Loh sayang kamu sakit?”
Rasa-rasa jeka ada yang janggal, Kesha terlihat baik saja. tangan digenggaman terasa normal suhunya. Tak ada keringat setitik pun karena Kesha pribadi yang jarang berkeringat kecuali memang benar sakit.
Kesha berbohong.
“Yaudah kamu istirahat aku antar pulang ya.”
Jeka sudah dirumah dan club jadi sambutan.
Kesha bawa harga diri yang dipertaruhkan bersamaan dengan takut dikepalannya. Bahunya dipertegas bersama langkah yang kian bimbang. Perlahan ia menyusuri tempat yang menjadi pelarian buat orang orang yang ditindas dunia. Langkahnya kian meragu bersama isi hati yang kian kalut. Kesha takut, tempat ini asing, dan dia semakin kalut.
“nah gitu dong datang… sini, sini lo mau apa tinggal ambil. semua milik lo dah”
Kesha ngga tahan, asap rokok bertebaran, melodi musik terlalu keras. Telinganya sakit, matanya perih dan harga diri semakin terkikis. Semua yang ada disini benar-benar bertolak pada Kesha. Lantas Kesha bisa apa? berdiri membawa harga diri dengan harapan harga dirinya bisa di anggap dan di pandang. Pergi dengan berbekal harga diri ternyata ngga cukup, mental dan waras mesti dipadukan agar ngga nyesal dan sesat di jalan.
“nih minum”
“itu…apa?”
“udah minum aja, paling ntar lo suka”
Pahit… panas… asing. Mulutnya baru mengecap minuman yang katanya keras, yang jadi pelarian orang-orang saat hidup kelewat batas. Jadi begini rasanya minum yang kata orang nikmat. Namun Kesha belum menemukan letak nikmatnya, yang ia tahu minuman tadi tidak enak dan tak pantas untuk dinikmati. Untuk sekarang seperti itu, ngga tau kalau nanti.
“Woy…. lah dah mabok aja nih orang. baru minum segelas udah sempoyongan. Laki apaan lo?”
“Anjing banget lo.”
“Wihh udah berani aja nih.”
Kesha mau marah, rasanya ia ingin meledak. Harga diri yang dia bawa harus dibuktikan bahwa Ia lelaki yang sejati. Rasanya marah sekali, lihat batin dikikis makian tanpa henti. Namun badannya terlampau ringan bagai asap yang lewat. Raga sedang diambang namun harga harus diperjuangkan namun Kesha sudah terlalu jauh dari kata sadar. Dirinya kian melemah bahkan berdiri saja pun tak sanggup. Kesha benar-benar tergeletak layaknya mainan murahan.
“BANGSAT!”
Itu jelas bukan Kesha, itu Jeka. Entah darimana langsung layangkan bogeman dengan matang. Sudah satu yang terkapar, dua bersama Kesha. Serangannya sungguh total, dan setiap bogeman dilayangkan dengan mantap, Jeka sudah diambang batas.
Jeka ngga bodoh, sematan mahasiswa berprestasi tak mungkin diberikan padanya dengan percuma. Ia tidak pulang melainkan bersembunyi mencari tahu alasan pacarnya berani berbohong. Bagai bom diledakkan, Jeka lampiaskan amarah membabi buta layaknya kesetanan. Tidak, Jeka benar-benar kesetanan. Perihal Kesha tak bisa sembarang dipermainkan karena Kesha adalah manusia dan point pentingnya, Kesha milik Jeka.
“Muka lo bakal gue ingat, jangan pernah harap lo bisa aman setelah ini. Laki laki setan, modal kontol doang bangga.”
Jeka tuntun Kesha, mereka sudah di apart Kesha, ia basuh pelan karena Jeka ngga tahan bau Kesha yang demi tuhan bikin pusing kepala. Jeka sedih, setiap usapan terbalur air mata sedih. Setiap tetesnya berisi sebuah ketidakrelaan seorang Jeka pada apa yang sudah terjadi pada kekasihnya.
Pacarnya berbohong karena harga diri ditantang untuk bermain. Pacarnya dianggap bukan laki-laki. Pacarnya direndahin tanpa henti.
“Loh kok ada Jeka? Jeka badan ku ringan banget rasa-rasanya aku bisa terbang rasanya lucu terus-”
Hening, hanya terdengar isakan yang mati-matian diredam.
“Jeka… kenapa nangis aku nyusahin ya?”
“Engga sayang. Ngga nyusahin kok.”
Jeka terlampau sayang, namun Kesha tidak sadar. Bibir digigit air mata kian terkuras. Tenggorokan kering dipaksa basah. Jeka cium lemat tangannya Kesha. Merasa sangat gagal karena Kesha harus merasakan hal yang tak sepantasnya ia dapatkan. Kesha itu bagai malaikat, hatinya yang tidak tegaan serta perawakannya yang ceria, lantas apa yang membuatnya diperlakukan seperti itu?
“Sayang maafin aku, aku ngga tau kalau selama ini mereka nindas kamu. Sayang aku ngga becus jadi pacar kamu. Aku minta maaf.”
“Jeka kok ngomong gitu, kamu tau ngga kamu tu keeeeerennn banget hehehe. Aku suka iri sama kamu. Sekarang aja aku iri soalnya kamu itu-” kalimat Kesha terpotong sebab sakit kepala yang mulai tak tertolong.
“Jeka, kepala aku sakit.”
“Aku temani tidur ya, Kesha mau peluk aku kan?”
“Mauuuu.”
Kesha dengan mimpinya dan Jeka dengan tangisnya. Ada tangisan yang berusaha diredam agar Kesha bisa tidur dengan tenang. Jika Kesha tau mengenai Jeka yang menangis, dia pasti sudah tertawa sampai sakit pinggang sebab seorang Jeka yang menangis sangat sangat tidak cock untuk seorang Kesha.
Tangannya merengkuh erat si kecil yang sudah ngga tau dunia. Manusia kejam sudah buat pacarnya terluka, sakitnya Jeka mengalahkan duka. Dan penyesalan paling dalam adalah ia yang terlambat mengetahuinya.
Sedihnya tak berkawan makin berat dimalam gelap.
Hidup Kesha ternyata berat dan ia makin tersayat.
Kesha dipandang sebelah mata Jeka jelas ngga terima.

Komentar
Posting Komentar