Un Choix

One Fine Day


Hari ini janjinya mereka kencan, keluarkan rasa bersama dia yang tersayang. Menurut Jeka, Kesha banyak berubah. Dari yang kecil sampai hal terbesar yang Jeka harap bukan menjadi masalah untuk keduanya. Karena perubahan Kesha merupakan perubahan baik lantas Jeka sangat mau untuk menerimanya.

Langkah Kesha ringan, tangan dalam genggaman terlampau kuat buat dia yang seringan sutra. Senyumnya kian diukir hati makin diusik. salah tingkahnya Kesha dimaklumin oleh Jeka.

“Akhirnya aku keluar juga. Aku udah bosen banget berurusan sama tugas dan hiruk pikuk kamar yang bikin sesak. Makasih ya Jeka udah ajak aku keluar”.

“Aku lega kalau kamu senang, tapi tugasnya udah kelar semua kan?”

“Iya udah selesai semua. Kan aku ngebut banget supaya bisa leluasa sama kamu.”

Disini mereka berdiri, berdampingan tanpa celah sekalipun. Disini sepi dan cuman mereka berdua yang saling melengkapi. Disini juga genggaman mereka makin kuat, tak ingin lepas dan saling melepaskan. Hari ini mau dihabiskan bersama dan untungnya cuaca berpihak, langit sangat cerah dan sibuk menyaksikan dua adam yang sedang berbagi rasa. Bahkan langit pun ikut mendukung hubungan mereka yang sebenarnya ditentang.

“Kamu banyak berubahnya Kesha.”

“Masa sih? perasaan aku biasa aja?”

“Dari cara kamu ngomong udah beda. Dulu kamu masih pake lo-gue terus masih galak tau ngomongnya.”

Kesha lempar direksi ke depan, lihat panorama indah disana. Berubahnya ia tentu diterima Jeka, namun sebenarnya ia sendiri juga tidak sadar dengan perubahannya. Entahlah mungkin karena ia sudah terlalu sayang dengan Jeka dan kelewat cinta hingga setiap perubahan yang didapatkan itu tidak pernah ia sadari. Jeka itu sempurna, benar-benar sempurna dan Kesha sangat bersyukur bahwa ia berada di garis takdir Jeka.

“Iya juga kalau di pikir-pikir. Aku ngga nyaman aja soalnya kamu ngomongnya sopan banget sedangkan aku malah galak gitu.”

“Nggapapa sayang, selama kamu nyaman aku totally fine with it.”

Bukan Jeka kalau ngga mentingin orang lain. Bukan Jeka yang gunakan nomor dua untuk dirinya sendiri. Tapi itulah Jeka, yang buat Kesha jatuh cinta sampai lupa dunia. Mereka berdiri beriringan, saling bawa cinta di bahu masing masing, yakinkan rasa lewat genggaman, bisikan cinta lewat netra yang bertatapan. Rasa Kesha lengkap. sangat lengkap. Dan Jeka merasa sungguh sempurna.

Dengan Kesha terasa lengkap, dengan Jeka terasa sempurna. Mereka saling melengkapi dan menyempurnakan rasa satu sama lain.

Lewat karsa yang dihendaki, Jeka raih Kesha, bawa ke pelukkan hangat karena hari ini cuaca sangat dingin. Lewat rengkuhan ia bisikan kalimat cinta, lewat rengkuhan ia bawa Kesha jatuh cinta bersama. Bahkan langit pun bisa mendengar seberapa besar cinta dari keduanya. Mereka benar-benar dibawa terbang oleh cinta, karena jatuhnya sudah tidak terasa.

“Kesha, kamu indah. Kesha, aku sayang kamu…sangat.”

“Aku sayang kamu, Jeka. Sangat.”

Kesha cuman bisa senyum, sambil menikmati rangkulan Jeka yang kian menguat. Jeka ini lucu. Jeka ini bikin dia mabuk cinta mulu. Jeka, Kesha sungguh sayang kamu.

Komentar