Un Choix

Paripurna



Naraya, gadis tak bertuan, jiwa bebas kembangkan asa. Menyusuri taman bunga yang kendatinya tak pernah ditemukan dengan arena bermain yang sudah mulai usang dimakan hari.

Naraya, gadis petualang dengan jiwa yang membara, taman tersembunyi ini merupakan hasil dari petualang yang tentunya tidak singkat.

Hari ini cerah, dihabiskan dengan berjalan tak ada salahnya, kan?

Naraya fokuskan netra, oh… ternyata ia tak sendiri. Taman ini telah ditemukan oleh petualang yang lain. Ia disana, duduk dibawah pohon besar dengan pakaian yang mahal sembari tekuk lutut nikmati hidup.

“Halo, boleh kah saya bergabung?”

“Oh tentu saja nona, silahkan”

Tuan bergeser, persilahkan Naraya untuk duduk bersama dibawah pohon besar tempat naungin rasa.

“Jika berkenan, apakah saya boleh bertanya?”

“Tentu saja, tidak ada yang melarang mu nona”

Naraya sudah lupa caranya berbicara, sehari-hari dihabiskan menurut pada tuan tak punya hati yang sedikit kata pun tidak diterima dengan baik. Namun tuan ini misterius, Naraya makin diselimuti rasa ingin tahu.

“Bagaimana tuan menemukan tempat ini?”

“Saya tak sengaja menemukannya saat sedang pergi dari kota. tak menyangka ada tempat yang lebih indah dari istana dalam kota. Tempat ini tenang dan saya suka tenang”

Tuan paripurna buang napas tenang, bebannya ia taruh sebentar. Pergi ke taman tentunya untuk lari dari kenyataan.

“Benar, tak ada yang mengalahkan buatan tuhan, manusia masih kalah dengan kuasanya, lantas selain tenang apa saja yang kamu dapatkan di tempat sederhana ini tuan?”

“Ini tidak sederhana nona, semua ciptaan tuhan tak ada yang sederhana dan saya selalu memuja apa yang telah dibuat tuhan”

Naraya terpesona, rasa-rasanya ia tak pernah bertemu dengan sosok cerdik nan baik seperti tuan disampingnya. Matanya berbinar, semakin ingin tahu siapa sebenarnya tuan ini.

“Jika boleh tahu, siapa nama tuan?”

Tuan tadi berdiri tangannya menawarkan sebuah pertolongan yang tentunya tak enak untuk ditolak.

Naraya berdiri, bersihkan gaun usang milik sang ibunda yang menunggu di rumah.

Kepala tertunduk karena tahta tuan sepertinya jauh lebih tinggi darinya.

“Bukankah tidak sopan berbicara tanpa menatap lawannya? tatap saya nona”

Rasa takut menyeruak, hawa sekitar menjadi berat. Naraya buat kesalahan, akan seperti apa dia?

“Maaf tuan, saya yang rendah ini tak berani untuk menatap. sama saja saya tidak tahu diri”

“Kita sama nona. sama-sama manusia. Tolong jangan perlakukan saya seperti itu, rasanya sakit”

“Tatap saya nona”

Naraya bukan gadis penuh harta, hidupnya hanya berdiam dirumah tak layak dengan ibunda yang pupuk harapan padanya. Jatuh bangun Naraya jadi makanannya, apapun akan dilakukan untuk harapan sang ibunda.

“Nona ketahuilah bahwa engkau memiliki mata yang cantik dan siapapun yang melihatnya akan jatuh hati. dan saya termasuk siapapun itu”

Naraya malu tak kepalang, dipuji baik tak pernah didapatkannya selain sumpah serapah tuan pemilik harta. Tuan ini belum dikenal namun gombalnya sudah tak tertandingkan. Wajahnya terlihat cerah, sudah pasti ia dirawat ditempat yang sangat baik lantas Naraya pun semakin kalut.

“Perkenalkan, saya mahesa dan nama nona?”

“Raya, Naraya. Nama saya Naraya”

“Senang bertemu dengan mu, nona Naraya”

Mahesa, tuan paripurna tak tahu bahwa disana Naraya sedang menahan malu akan debaran tak menentu.

Tuan Paripurna yang cerdik, Naraya jatuh hati.

Komentar