Un Choix

Rasa Dan Karsa

 


Sosok kecil tertatih. Sakitnya kelewat batas, rasa-rasanya sudah diambang. Namun Kurva kecil tetap ia ciptakan karena Raga Perkasa jangan sampai tahu. Karena sudah cukup kehadirannya beban, keadaannya jangan sampai menambah beban lagi. Kakinya kian melemah, tangan meremat perut bagian bawah, tamu bulanan tak bisa dilawan.

Pelan ia berjalan, mengambil segelas air demi melegakan diri yang kian disampul peluh. Cukup menenangkan namun masih tetap kalah dengan rasa sakitnya. Raga Perkasa belum dirumah, dan ia masih punya 15 menit untuk menenangkan dirinya karena baru saja Raga Perkasa mengabarinya bahwa 15 menit lagi ia akan sampai. Dan 15 menit harus digunakan sebaik mungkin.

Sosok Kecil duduk di sofa sederhana yang sudah tua perawakannya. Sembari atur napas agar diri tetap waras dan menerima rasa sakit yang kian membucah. Dirinya mulai menerima rasa sakit bulanan dan perlahan mulai sadar bahwa ia hanya butuh tenang dan menerimanya.

Suara gagang pintu terdengar, pertanda yang diharapkan telah pulang dengan selamat.

Tak ada rasa yang lebih nyaman dari suara Raga Perkasa yang muali masuk ke indera pendengaran.

“Halo sayang, gimana harinya?”

“Baik kok, gimana ada cerita ngga hari ini?”

Sosok Kecil bangkit, sakitnya perlahan hilang. Langkah demi langkah ditempuh hanya untuk segelas air demi Raga Perkasa yang baru saja pulang dari lelahnya hari untuk menghidupi dua manusia yang tinggal di rumah kecil. Rumah mereka sungguh hangat, rasa lelah kian menghilang dari pundak Raga dan rasa sakit tamu bulanan juga kian menghilang.

“Ngga ada yang spesial. Aku hanya menyelesaikan tugasku agar besok bisa habisin waktu berdua.”

“Kamu pasti cape, minum dulu, yuk.”

Raga Perkasa minum hingga tuntas, tenggorokannya minta dilegakan dan pundaknya minta ditenangkan.

“Aku boleh minta peluk ngga?”

“Boleh dong. Sini…sini.”

Raga Perkasa direngkuh dan beban kian meluruh. Dirinya yang tegang dan penuh peluh ini diterima penuh cinta oleh Sosok Kecil yang menjadi pusat dunianya.

Raga jelas tahu bahwa hari ini adalah merupakan hari tamu bulanan datang, pelukan tadi bukan semata untuk dia saja yang lelah dimakan hari, tapi juga untuk semua rasa yang Sosok Kecil rasakan saat ia tidak ada.

“Aku tau kamu lagi kesakitan.”

Hening. Sosok Kecil masih mendengarkan. Ada sedikit sensasi asing.

“Kalau sakit jangan diam, bilang ke aku biar aku ngerti, ya?”

“Udah ngga sakit kok. Nanti aku bilang ke kamu kalau sakit lagi.”

Rengkuhan diregangkan, Raga Perkasa tatap Sosok Kecil dengan lamat. Jari yang elok dan selincah benang mengelus pelan surai yang mungil. Dikecupnya lama kening si mungil sebagai sebuah pernyataan bahwa ia sangat mencintai makhluk dihadapannya ini. Sosok Kecil menerima setiap pergerakan yang Raga Perkasa karena sungguh selama ini ia selalu jatuh pada setiap yang Raga Perkasa lakukan padanya. Karena ia tahu semua didasari oleh cinta dan kasih sayang.

“Kamu hebat, aku makin cinta.”

“Hahaha… bisa aja. Mandi sana.”

Komentar