Un Choix

Sudut Pojok Toko Ice Cream

 


Pintu baru saja dibuka menampilkan yang perawakannya lebih kecil memimpin jalan didepan. Dengan senang hati ingin mengutarakan pesanan namun langsung dipotong oleh yang lebih besar dibelakang. Sebab Jeka sudah hapal perihal kesukaan Kesha dan tanpa ragu mengucap pesanannya. Hari ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama di pojok toko ice cream yang menjadi langganan mereka berdua. Tempat yang pas untuk mengamati manusia yang berlalu-lalang dan sibuk akan dunia serta seisinya sedang mereka saling berbagi dunia.

“Ice cream cone nya 2 ya mba. vanilla satu, coklat satu.”

Jeka itu sudah hafal. segala tentang Kesha sudah ia ketahui, seperti pesanan mereka tadi contohnya. Cukup sederhana namun mampu membuat Kesha mabuk akan cinta.

Lantas Kesha hanya senyum dan menari kecil sembari menunggu pesanan mereka jadi.

“Terima kasih ya jeka.”

Haduh tuhan, waktu kamu ciptain Kesha itu porsinya benar-benar pas ya buat seorang Jeka. Jeka mana bisa tahan melihat pipi gembil yang makin melebar kala pemiliknya tersenyum riang. 

Siapa sih yang marah-marah tadi? Tentu saja sudah menghilang.

“Pelan-pelan sayang, sampe cemong gitu.”

Jeka seka pelan lantas lanjut melihati si mungil yang sangat fokus dengan es krimnya. Kalau seperti ini Jeka rela foya-foya hanya untuk si kecil dengan sogokan yang terbilang sungguh mudah. Kesha mana peduli, ditatap saja mana ia sadar.

“Jeka makasih yaaa. es krimnya enak.”

“Iya sayang. sama-sama.”

Kesha masih tersenyum, layaknya lupa masalah lalu. Masih kuat menampilkan pipi gembil yang menurut Jeka bisa di mainin. Tuhan sempat berpikir apa ya saat membuat Kesha. Perawak kecil yang riang namun garang dipadukan sempurna. Kedatangan mereka disini bukan semata menikmati makanan penutup belaka, Jeka lemaskan bahu, buat hati lebih ragu. Namun Kesha mesti diberi tahu, perihal hati Jeka sudah pasti miliknya. Kesha merupakan alasan mengapa seorang Jeka jatuh pada cinta.

“Sayang.”

“Hm?”

“Kamu jangan kepikiran soal aku sama orang lain ya. Apa yang kamu liat itu salah satu bentuk sopan santun ku. kamu jangan kepikiran aku beralih ya?

Aku memilih kamu dan aku milik kamu, ya?”

Jeka ini selain pintar di bidang akademi, pintar gombal pula. Mulutnya itu loh serasa diisi madu yang manisnya minta ampun. Tidqak ada yang tahu sisi manis seorang Jeka, hanya seorang Kesha yang menjadi saksi bisu manisnya ulut Jeka dan perawakannya. Jeka dan dia benar-benar pas, saling menyatu dan bertaut. Layaknya Kesha yang garang dan Jeka yang dingin keduanya akan menghangat seiring waktu bersama.

Kesha mana mungkin ngga salah tingkah, lihat saja pipi gembilnya mulai memerah dan matanya yang membulat sempurna.

Mana mungkin mau beralih. Katanya Jeka, beralih dari Kesha itu sama aja nolak rejeki. Kata pujian pun tak cukup untuk menggambarkan seorang Kesha. Indahnya Kesha tak setara dengan segala kata-kata manis di dunia.

“Jeka, maaf ya aku marah-marah ngga jelas. Kalau nanti aku marah-marah lagi tegur aja ya.”

“Hei, sayang aku ngerti dan kamu ngga salah. Apa yang kamu rasain itu benar kok, jadi jangan merasa bersalah, ya?”

Toko es krim tersebut makin dibuat manis dari dua adam yang sedang asik beradu pandang dipojok ruang berjendela besar. Toko es krim tentu dingin, namun kian menghangat beriringan dengan mereka yang saling berbagi rasa. Cinta Jeka dan Kesha ini mohon dimaklumi, ya?

Komentar