Un Choix

Sweet Lies

 


“Arka kamu tahu apa yang aku lakukan untuk sampai ke titik ini?” Batinnya.

Matanya tetap sama, menyalang dan tajam bagai elang yang siap menerkam. Namanya Reva, wanita yang katanya cinta mati dengan Arkatama tapi takut untuk mengutarakan. Lucu bukan? Katanya cinta, tapi takut, katanya rela tapi malah menangis di setiap malam. Badannya tegar karena sesaat sebelum Arka datang ia selalu pesiapkan diri. Karena ia tak pernah tahu apa yang akan ia hadapi.

Raganya diperkuat, berdiri berhadapan dengan Arka membuatnya linglung namun mau tidak mau ia harus terlihat kuat. Kakinya lemas dan matanya memanas namun ini bukan kedua kali atau pertama kalinya, ini sudah yang kesekian kalinya.

“Reva aku bawa kabar gembira! dan kamu orang pertama yang aku beritahu. Ayo duduk, aku mau cerita banyak.”

Arka menarik Reva untuk duduk bersebelahan. Badan Reva terlalu ringan sebab kabar gembira milik Arka bisa jadi kabar buruk untuknya. Tapi semoga saja tidak. Karena Reva sudah berdoa dan rajin beribadah, bahkan tuhan tahu seberapa banyak nama Arkatama ia sebut dihadapannya.

“Pelan-pelan Arka, aku ngga kemana mana.”

Arka mengulas senyum, teduh untuk Reva dan menusuk untuk hatinya. Raga didudukkan namun nyawa entah kemana. Reva kuatkan diri…hibur diri karena kalau bukan dia, siapa lagi?

“Kamu tau kan tentang mimpi aku?”

“Kamu punya banyak mimpi, Arka. Yang mana satu?”

“Perasaan mimpi ku sedikit.”

“Perasaan mu.”

Tangannya di raih, digenggam erat dan Reva terbang tinggi. Tangannya di pegang Arka, Arka salurkan hangatnya, berarti Reva spesial kan? Arka ini sudah pasti punya Reva kan? Reva ngga bisa tanpa Arka, lantas bagaimana dengan Arka?

Arka mengeratkan pegangan, bahunya terlihat lebih lega, dan hatinya berdebar dua kali lebih cepat katanya sebab kabar ini benar benar baik dan siapapun yang mendengarnya akan berbahagia…katanya.

“Reva, kamu adalah orang yang paling spesial buatku. Setelah papah mamah kamu jadi orang yang paling penting di hidupku.”

Mata Reva membulat, jantungnya ikut berdebar cepat dan tangan mulai dingin. Ego mulai goyah namun waras tetap ia pertahankan sebab Arka orang yang tak bisa ditebak. Satu ucapan untuknya, dua ucapan belum tentu untuknya. Lantas akan dibawa kemana percakapan ini.

“Aku sayang kamu…banget…banget. Kamu yang paling tahu tentang aku, Reva dan aku bersyukur dipertemukan denganmu”

Jika ini kabar baiknya maka Reva terima, sangat sangat diterima. Ini yang Reva mau. Ini mimpi Reva. Tapi apa benar mereka sudah masuk ke beritanya?

“Itu kabar baiknya?”

“Bukan ini baru awalan”

“Lantas beritanya?”

“Reva…aku akan menikah”

Bagai ditampar habis habisan, hati Reva sakit, diremat habis habisan. Badannya lemas, tangannya terlepas. Satu tarikan napas tercekat kenyataan, hawa terasa lebih panas dan matanya makin memanas. Air matanya memaksa keluar namun ini berita baik, ia tak boleh menangis. Sisa tenaga ia gunakan sebaik mungkin.

“Dengan siapa Arka? Siapa perempuan itu?”

“Dia wanita yang aku temui saat hujan turun deras dimalam minggu yang riuh. Ia kehujanan dan sibuk menangis di pinggir jalan saat orang orang tak peduli padanya. Saat itu aku sedang bingung namun tatapannya buat aku jatuh seketika. Kamu tau, ia cantik saat menangis. Aku sangat suka, Reva”

Kalau Arka bisa jatuh cinta sekian detik, bagaimana dengan Reva yang jatuh dari 8 tahun lamanya? Bagaimana dengan dia yang jatuh seketika saat Arka hanya tertawa didepannya. Bagaimana Reva yang korbankan hati demi Arka yang tersenyum sendiri?

Perang Reva gagal, tidak, belum perang ia sudah gagal duluan. Reva jatuh habis-habisan. Diremat kenyataan disadarkan oleh keadaan.

“Reva kamu kenapa? Kenapa diam? Kamu senang kan?”

Hening. Benar benar hening. Telinga Reva berdenging, ini terlalu banyak. Reva ngga sanggup. Ia butuh waktu.

“Reva kenapa menangis?”

Dari lubuk hati yang terdalam, Reva suarakan kebohongan terakhirnya. Dan sekarang sudah saatnya ia berperang dengan dirinya sendiri, hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Aku…bahagia Arka. Bahagia.”

Reva disambut pelukan. Badannya yang sudah lemah dibawa kedalam pelukan hangat yang terasa semakin asing. Bukan ini yang Reva mau tapi ia harus apa. Berbohong tiada henti, ucapan manis yang nyatanya ialah kebohongan yang tertutupi. Hatinya semakin berat dan napasnya semakin sesak. Kalimat spesial tadi tidak ada artinya.

“Terima kasih Reva. Aku benar-benar menyayangimu.”

“Iya Arka….aku juga”

Dan hari paling buruk Reva ditutupi dengan kejujuran yang tak akan pernah Arka terima.

Komentar