Un Choix

Angin Malam

 

Makan malam kali ini cukup sederhana namun kehadirannya sungguh istimewa. Bagi Talia, tawa Khanza sudah seperti alunan musik jaz pada restoran bintang lima yang iramanya beraturan juga menenangkan serta senyuman manis dari seorang Jonathan yang sudah melengkapi penutup untuk hidangan mereka. Sempat ada sedikit pertikaian namun itulah yang menjadi hiburan Jonathan dikala harinya hanya omongan berbobot perihal pekerjaan.

”Kerjaan daddy gimana?”.

”Lancar kok”.

”Daddy cape?”.

Khanza paham sekali dengan Jonathan. Cara mengecek apakah Jonathan lelah atau tidak dilihat dari cara ia menjawab. Jika jawaban yang diberikan simple dan terkesan to the point, itu sudah menandakan bahwa Jonathan lelah dan perlu tenaga dalam berinteraksi. Maka sudah menjadi perannya untuk mengisi kembali tenaga pria yang menjalin hubungan kontrak dengannya.

”Semangat daddy Jo! hari ini daddy hebat! Talia juga hebat”.

“Perasaan saya ngga ngapa-ngapain”.

”Kamu hadir itu sudah hebat Talia, saya bangga sama kamu”.

Lagi-lagi Jonathan menampilkan tarikan manis miliknya. Talia sungguh lelah dengan semua yang terjadi padanya, namun dengan melihat senyuman serta mendengar tawa milik Khanza, Talia berhasil diyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja. Setidaknya untuk malam ini, ngga tahu besoknya.

Setidaknya untuk malam ini.

Khanza memutuskan untuk membersihkan peralatan makan serta sisa kotoran milik mereka. Ia tidak memperbolehkan Talia untuk melakukan segala aktivitas kecuali beristirahat. Hingga terbesit sedikit ide dalam benak Khanza. Segera ia hentikan sebentar kegiatan mencucinya dan bergegas menemui daddy dari mereka berdua.

”Talia mana daddy?”.

”Katanya mau ngadem di balkon”.

Khanza menepuk jidatnya, bisa-bisanya daddy nya ini membiarkan Talia yang sedang sakit menikmati angin malam yang sudah tentu tidak baik untuk Talia.

”Ih… daddy Talia lagi sakit, ntar malah makin parah gimana”.

”Talia bilang dia udah pake banyak minyak kok, obat juga udah dia minum”.

Malas melanjutkan percakapan, Khanza langsung saja menyampaikan niat miliknya yang menjadi penghalang kegiatan mencucinya.

”Coba daddy Jo ajak Talia ngomong. Kali aja dia mau cerita”.

”Yaudah saya coba dulu ya”

”Oke”.

Jonathan perlahan mendekati bayi miliknya yang sibuk melempar pandangan kosong pada pemandangan didepannya. Angin malam ini cukup dingin, untung saja mereka sudah mengenakan cardigan milik masing-masing. Jonathan sebenarnya tidak jago dalam urusan percakapan namun demi Talia ia usahakan.

“Halo manis…”.

”Hey daddy”.

Hanya menoleh sekejap, Talia kembali berfokus pada pandangan yang disuguhkan oleh tempat yang menjadi tempat tinggalnya.

“Hari Talia gimana? saya belum ada denger cerita kamu”.

”Buruk”.

“Buruk kenapa sayang?”.

Tidak ada tanda-tanda bahwa Talia akan melanjutkan percakapannya. Sungguh terlihat bahwa ada yang sedang ia sembunyikan saat ini. Sorot mata yang biasanya menggambarkan keceriaan kini hilang bagai dibawa angin yang berhembus malam ini. Jonathan mencoba untuk paham namun sepertinta Talia menolak untuk dipahami.

Semakin kuat angin berhembus, semakin tersiksa juga Talia. Kesedihannya yang mengudara membuat Talia lemas, oksigennya terganti oleh derana miliknya.

“Talia sayang, hubungan kita memang sebatas kontrak. Namun apa yang saya berikan serta perasaan saya itu tulus”.

“Saya bersyukur dipertemukan dengan kamu dan Khanza, saya harap saya bisa berbagi kebahagiaan dengan kamu dan Khanza”.

”Daddy udah bahagiain kami berdua kok”.

“Lantas bagaimana dengan sedihmu? sedihmu itu perlu dibagi Talia, dan saya siap untuk menerima sedihmu itu”.

Hening sejenak mengisi interaksi keduanya hingga ucapan yang dilontarkan Talia berikutnya berhasil membuat Jonathan ikut bersedih merasakan segala yang Talia tumpahkan dengan kata yang cukup sederhana. Sangat sedrhana sampai-sampai Jonathan dibuat kasihan terhadapnya.

”Daddy… Talia cape”

Bulir bening mulai menghiasi pipi merona milik Talia, risaknya ia hamburkan pada tuannya. Tuannya sudah berkata bahwa ia siap untuk menerima segala risak miliknya. Talia hamburkan, sebarkan risaknya. Kini bebannya menyatu dengan angin malam yang menyelimuti mereka.

Jonathan sungguh terkejut, pada malam ini Talia menangis tanpa suara dihadapannya. Mata tajamnya kini berubah sendu memberi isyarat bahwa risak Talia telah ia terima dengan baik. Talia masih asik hamburkan derana hingga raganya dibawa ke sebuah dekapan hangat.

Jonathan membawa Talia kedalam sebuah rasa manis dengan sedikit rasa cekit.

Diberikannya rasa manis bibirnya yang sudah mengecap segelas wine bersama dua bayi kesayangannya agar derana Talia segera tergantikan dengan rasa wine tadi.

Bibir manusia kalut disambut oleh tuan manis tanpa takut.

Belah yang saling bertaut mengecap manis dan pahit milik keduanya. Malam dingin dipatahkan oleh tautan hangat milik mereka. Tak lupa usapan pelan pada punggung Talia sebagai penyemangat agar bahu Talia bisa lebih kokoh setelah ini.

“Talia, sedihnya sudah habis. bahagia lagi, ya?”.

”Makasih dad untuk rasa manisnya”.

Komentar