- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Duduk termenung, bahu kian surut. Kardigan hitam tak berhasil mencegah dingin namun peduli apa sosok kecil saat diri direngkuh dingin dan terikat sedih. Suara angin kalah dengan gaduh kepala. Yang ia harapkan hanya sebuah tenang, lantas kenapa harus sesusah ini, batinnya.
“Halo Raga, maaf baru aku kabari. Aku ngga dirumah ya”
“Kamu dimana sayang? mau disusul?”
Sosok Kecil terdiam, berpikir sebentar. Direksinya ia bawa ke pohon magnolia disebelahnya. Buang napas dan berpikir akan lebih baik jika ia tidak sendiri. Bahu kian surut dan batin kian tersesat, ia perlu seseorang.
“Iya…tolong. Aku di taman, kursi yang biasa”. Ucapnya final.
Besok kalau mau sedih lagi harus bawa Raga Perkasa, agar bisa dibagi dua, agar risaknya tidak terlalu menyakitkan. Karena kalau dibagi, ia bisa sedikit lega dan bernapas bebas sebab beban terbagi dua dengan Raga Perkasa. Namun yang jadi pertanyaan, apakah Raga bersedia? Tidak ada yang mau menampung beban orang lain karena beban sendiri aja belum tentu bisa diatasi bagaimana dengan beban orang lain.
Benar, jangan egois.
“Sayang!”
Raga Perkasa semakin jelas dimata, melambai sebentar sebelum melanjutkan langkah. Bahunya sangat tegas, dan wajah merona. Raga Perkasa tak pernaah tidak bahagia, sepertinya. Ada dua minuman dimasing-masing genggamannya. Sosok Kecil sudah tahu apa yang ia bawa.
“Ini aku bawain, aku tahu kamu pasti butuh yang manis-manis”. Katanya kelewat manis.
“Terima kasih Raga. Sini, duduk”. Ia menepuk tempat disampingnya sebentar dan lanjut meminum minumannya.
Napasnya kian memberat namun seberusaha mungkin ia sembunyikan, kalutnya dia jangan sampe tercium Raga Perkasa. Beratnya beban cukup ia rasakan, tak perlu berbagi karena pahitnya beban sangat luar biasa. Raga Perkasa mengapa Sosok Kecilnya berdiam diri disini. Surutkan bahu dengan pikiran yang kian kosong, melambung entah kemana pikirnya. Sosok Kecil itu cukup rumit pikirannya, tak bisa salah aksi atau akan memicu api.
Sosok Kecil buang napas berat, tak sadar apa yang dilakukan karena hidup kelewat berat.
“Hey sayang, ayo napas dulu…”.
Raga Perkasa raih tangan yang kian dingin, bawa Sosok Kecil ke ambang kesadaran agar tak lupa napas serta detakan yang normal.
“Ayo tarik napasnya…buang pelan-pelan”.
“Pintar, ayo ulangi sayang”.
Raga Perkasa punya beban, tapi kalau harus menerima beban Sosok Kecilnya, lantas dengan senang hati ia akan menerima karena Sosok Kecilnya ini tak sekuat dirinya yang mampu menahan kalut yang kian beratkan bahu.
“Kamu mau habisin tehnya sambil jalan-jalan lalu cerita atau mau cerita dulu baru jalan-jalan?”
Sosok Kecil menimba sebentar, buang napas perlahan dan berkedip sambil kumpulkan fokus. Berjalan sebentar tak ada salahnya kan?
“Ayo jalan-jalan”. Katanya kuatkan genggaman.
“Ayo…”.
Mereka berjalan mengitari taman, sesekali buang napas karena udara di taman kelewat segar. Kalau kata Raga Perkasa jangan di sia-siakan. Langkah seirama dan detak jantung kian sirama, keputusannya untuk mengundang Raga Perkasa tidak salah. Ia memang butuh seseorang.
“Sayang, kalau ada apa-apa bagi ke aku ya? aku dengan senang hati akan menerimanya. Jangan takut karena kamu tidak akan membebaniku, segala sesuaatu tentangmu akan selalu kuterima”.
Sosok Kecil hentikan langkah, terlihat terkejut dengan perkataan Raga Perkasa, seakaan ia bisa mendengar isi hati miliknya. Entah berapa kali Sosok Kecil harus mengucap syukur, bertemu manusia seperti Raga Perkasa yang tentu sebuah keberuntungan. Raga Perkasa kelewat baik taruh beban rasanya sungguh tak baik.
“Raga, terima kasih dan maaf”.
“Tak perlu minta maaf sayang. Kamu berharga”.
Katanya yang buat diriku tenang bersamaan hati yang berdetak cepat akibat sebuah kecupan hangat yang diberika.

Komentar
Posting Komentar