- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Iya sayangku, kenapa?”.
Hening. Kesha sibuk menatap Jeka. Jeka itu sempurna, ya? sepertinya dimasa lalu Jeka adalah seorang pejuang yang memperjuangkan kebaikan karena kehadirannya sekarang ini sebuah kejutan luar biasa dari tuhan. Dan bagaimana ia bisa disandingkan benar-benar sebuah keberuntungan yang akan Kesha syukuri setiap harinya.
“Sayang, jangan melamun. Ntar kemasukan loh”.
Jeka kembali menatap layar laptop didepannya. Pasalnya ini mendadak karena Jeka tidak ingin nugas sendirian, katanya akan lebih fokus kalau ada Kesha disampingnya. Namun sebenarnya ia juga rindu dengan pujaan hatinya karena sudah semingguan mereka tidak berjumpa karena jadwal padat.
Kesha hanya bisa menghela napas, menyederkan kepala di meja sebab bosan akan perlakuan pacarnya yang hanya mendiaminya saja. Berdecih sebentar sebab pacarnya tak peka akan keinginan dirinya yang sangat rindu untuk menghabiskan waktu berdua. Tugas Kesha sudah selesai, jauh sebelum Jeka mengajaknya keluar karena ia takut kalau sewaktu-waktu Jeka akan mengajaknya keluar secara tiba-tiba seperti saat ini.
“Jeka…”. Panggilnya lagi.
“Hmm…?”. Tak ada yang berubah, Kesha dengan bosannya serta Jeka dengan tugasnya.
“Ishh… tau ah sebel”.
Jeka terlalu fokus hingga lupa disebelahnya ada pujaan hati yang ingin diperhatikan juga. Jeka lempar direksi, menatap kekasih yang sudah mengalihkan tatapan kejalan dan jangan lupa dengan bibir yang kian dimajukan akibat bentuk sebuah kekesalannya. Jeka tersenyum sebentar karena apapun tentang Kesha selalu berhasil membuatnya tertawa karena sungguh Kesha itu lucu. Sangat Lucu.
“Sayangku… kamu udah kek bebek aja bibirnya digituin hahaha”.
“Jeka ih.. ngga lucu ya!”.
“Iya sayangku, sini liat aku dulu”.
Jeka mengambil tangan Kesha, diusap pelan sebagai bentuk bujukan agar Kesha mau menatapnya. Kesha itu manis, dan Jeka selalu berhasil dibuat mabuk akan parasnya. Namun yang lebih ia suka adalah hati seorang Kesha, kata Jeka semua orang harus tahu betapa baiknya insan tuhan dihadapannya ini.
“Maaf ya udah cuekin kamu, jangan cemberut dong… kamu makin lucu”.
“kimi mikin lici, bodo amat. Ngga peduli”.
Jeka bawa Kesha ke pangkuan, bayi besarnya ini kalau sudah ngambek bakal nyebelin tapi Jeka bakal tetap suka. Mau bagaimanapun Kesha, akan tetap ia suka. Tangannya melingkar dipinggang ramping sang kekasih, sesekali mengelus untuk salurkan tenang. Menatap dalam netra yang memandangnya, sungguh Jeka tenggelam dalam lautan cinta.
“Makasih ya udah mau temenin aku nugas”.
“Ia tapi jangan cuekin aku juga. Aku ngga suka”. Protes si manis, pasalnya sudah 1 jam ia diacuhkan perkara tugas yang tiada habisnya. Jeka eratkan pelukan dan jarak mereka kian terkikis. Memuja Kesha dengan berbagai kata indah itu sepertinya tidak cukup untuk mensyukuri ciptaan tuhan dihadapannya ini. Rasanya Jeka ingin korbankan segalanya demi senyum Kesha yang indah bak nirwana ini.
“Iya sayangku… senyumnya mana dulu?”.
Kesha ukir senyuman termanisnya, diselingi tertawa kecil sebagai penanda bahwa ia sudah tidak mempermasalahkan apapun.
“Manisnya… kiss dulu sini”.
Kecupan singkat disambut, hati pun melebur. Kesha hanya bisa sembunyikan wajah diceruk leher Jeka karena sebenarnya ia malu dan Jeka tentunya sangat paham akan itu. Jeka dan pelukan eratnya, sesekali mengusap punggung kecil Kesha. Kecup dalam pelipis sang kekasih sebagai bentuk cinta yang ia puja selama ini. Kesha yang malu buat Jeka makin tersipu.

Komentar
Posting Komentar