Un Choix

Malam Penuh Rasa


 “Sayang kenapa?”

Tanganku kelewat kaku, jantung ku sudah terasa dua kali lipat detaknya, air mata tak bisa dibendung, rasanya aku kian goyah diserang kenyataan. Kian lemah akan keadaan, dibawa jauh dari kata sadar. Tubuh yang kian bergetar serta air mata yang kian deras, perlahan merusak malam yang harusnya diisi canda tawa.

Aku panik.

“Sayang…hey…ayo kita pindah dulu ya. Masih bisa jalan kan? sini pegangan”

Mata kian panas, hati diremat kenyataan, tubuh mulai lemah karena yang namanya panik sesaat seperti diterjang senapan yang berhasil tepat sasaran. Aku hanya ingin menikmati waktu bersama bukan tersiksa mati matian dengannya. Menghabiskan waktu yang sudah direncanakan dari dua minggu lalu namun hancur seperkian detik. Perihal panik kadang kelewat batas.

“Berhitung bareng aku yuk? 1…2…”

Tangan Jevan selalu hangat, pola hitungan tepat sasaran namun detakku masih jauh dari kata stabil. Pergi ke taman bermain tak pernah seburuk ini kalau saja aku tidak panik. Panik antara sadar dan tidak saat tubuh hilang kendali dan pikiran kian pusing. Lupa cara bernapas dan lupa cara tenang, selalu berakhir menangis sambil mengais oksigen.

“Nafasnya sayang… ayo diatur lagi…”

Jevan terlampau tenang namun raut tak setenang rasanya. Wajah gambarkan kalut, genggaman salurkan takut, namun suara kelewat halus. Jevan paham pacarnya sedang terserang panik, maka genggaman ia perhalus lagi, sisa warasnya harus bisa stabilkan kondisi sang kekasih. Mereka hanya berdua, sudah pasti Jevan turut ikut campur perihal panik yang tidak tahu tempat.

“Sayang kita masih punya banyak waktu. Nggapapa jangan sedih ya”

Di taman bermain ada air mata yang jatuh, di taman bermain ada hati yang dipatah habis-habisan. Ada raga rapuh yang perlu direngkuh dalam lautan manusia serta debaran hati yang berusaha untuk ditenangkan. Taman bermain di malam hari benar-benar diluar ekspetasi.

“Maaf aku udah ngerusak malam kita. Harusnya ngga gini…”

“Malam kita tetap indah kok, ngga ada yang rusak. Aku tetap nikmatin malam ini”

“Tapi kamu cuman bantuin aku…maaf aku nyusahin”

Dibawah malam, ada raga yang direngkuh erat. Jevan hanya ingin memberi tahu bahwa hadirnya sang kekasih bukan suatu perkara berat yang sulit untuk dihadapi. Hadirnya sang kekasih merupakan anugrah sekaligus pemberian tuhan paling indah yang ia syukuri. Apapun kondisinya, tak akan pernah memberatkan. Semua diterima dengan lapang dada karenaa Jevan paham panik itu tidak enak.

“Sayang, aku ngga suka kamu bilang gitu. Kamu ngga nyusahin sama sekali”

Lewat bibir yang berbicara serta hati yang kian menghangat, ada dua pasangan yang sedang adu rasa diantara manusia yang sedang nikmati dunia. Lewat sentuhan hangat dan ucapan kelewat manis, Jevan bawa perempuannya tenang sembari berbisik bahwa ia ciptaan yang paling berharga di dunia setelah ibunya.

“Kamu hal yang paling aku syukuri di dunia setelah ibu. Dan aku ngga pernah merasa berat apalagi terbebani dengan kamu”

“Tapi…”

“Sayang…kamu cukup. Kamu lebih dari cukup”

Tuhan, rasa rasanya ia lupa untuk bersyukur bahwa lelaki yang menjadi pasangannya merupakan Jevan Akarsana, laki-laki yang didambakan seluruh dunia. Bahkan dunia ikut memujanya. Ia selalu lupa bahwa seseorang yang berdiri didepannya tak patut disandingkan dengan yang lain. Sungguh tidak setara.

“Makasih ya… udah nerima keadaan ku. Tolong tetap sama aku, ya?”

“Pasti”

Komentar