- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Maaf…” katanya lirih. Laki-laki di depannya ini… tolong ia sudah jatuhkan dirinya hanya untuk laki-laki di hadapannya ini. Hatinya sudah ia bawa berlabuh jauh demi laki-laki ini. Araya tak mampu menatap, sudah banyak sakit yang dirasa. Jatuh berdegup lebih kencang dan napasnya kian terikat. Menarik napas saja sudah sakit, ditambah lagi pilu yang harus ia pikul.
“Aku kurang apa, Athala? Apa tangis malam ku tak cukup meyakinkan betapa sayangnya aku sama kamu? Lantas pembuktian apa lagi yang kamu perlukan?”.
“Kamu ngga ngerti kondisinya, Ra. Aku butuh orang disamping ku”.
Araya hanya bisa buang napas, perjalanan 3 jam sungguh melelahkan. Ia mengira semua akan terbayarkan dengan kehadiran Athala yang sudah ia dambakan. Araya hanya bisa tertunduk lemas, perlahan tubuh surut, memeluk lutut karena diri kian dipeluk pilu. Nangis sesegukan sambil mengeratkan pelukan, laki-laki didepannya ini sama saja dengan pria yang tak pernah ingin ia kenang.
“Aku butuh seseorang Ra, dan dia ada disana. Kapanpun saat aku butuh. Kapanpun”.
Tiap kata yang keluar menciptakan rematan di hatinya, jadi begini ya jatuh sendirian. Hanya satu yang memenuhi kepala Araya, ia kurang apa?. Kesalahan apa yang telah ia perbuat dimasa lalunya sehingga ia harus diperlakukan seperti ini?
“Aku ngga bisa sendiri, Araya. Kamu pasti paham”.
Athala ngga bisa sendiri, lantas Araya selama ini apa? Menahan tangis disepertiga malam, memeluk kalut sendirian tanpa siapapun disampingnya. Namun masih bisa berpegang teguh pada hati tempat ia berlabuh.
“Aku benar-benar ngga paham. Kamu kira mudah buat aku hadapin semuanya sendirian? Engga! Aku ngga habis pikir sama pemikiran kamu. Salah ku apasih Athala? apa?!”.
Perihal hati dikesampingkan, karena logika yang harus bertidak.
“Araya…”.
"Katanya tak mudah untuk menjalin hubungan yang terpisah oleh jarak, awalnya aku menolak fakta bahwa kamu ngga pernah bakal mendua, ternyata sampah".
“Dan aku terlalu buta untuk menerimanya”.
“Maaf Ra…”.
Araya berdiri, bersihkan sisa pasir pantai yang menempel. Awalnya Araya mau kasih kejutan untuk Athala namun malah ia yang mendapat sebuah kejutan tak terduga. Athala dengan perempuan lain tak akan pernah hilang dari benaknya. Athala terlihat sangat bahagia lantas Araya semakin kesakitan. Kalau sudah begini, lantas siapa yang pantas untuk disalahkan?
“Jangan minta maaf, basi”.
Pantai menjadi saksi bisu pasangan yang sudah saling ikatkan diri dengan bulan yang ikut meratapi hubungan mereka.
“Terima kasih untuk 4 tahunnya. Sekarang aku paham kenapa tuhan ngga merestui kita”.
Araya usap kasar jejak air mata, ia lepaskan cincin yang telah tersemat selama satu tahun dijari manisnya. Tangannya dengan ringan melemparkan cincin yang tak seharusnya berada di jarinya, membuang sisa rasa dan harapan yang telah tersusun rapi. Araya sangat menyayangi Athala, namun dirinya juga lebih penting.
Araya berbalik dengan keputusan bulat, bahu ditegapkan walau air mata masih keluar deras. Langkah kaki tegas karena meninggalkan Athala adalah pilihan tepat. Mungkin akan sakit tapi nanti ia akan sembuh sendiri dan bersyukur karena telah memilih pilihan tepat atau sebenarnya malah hal ini yang paling ia sesali?
Athala masih disana, berdiri dengan bahu tegap serta aliran air mata yang pelan keluar. Ada tangis yang berusaha diredam, ada rasa yang berusaha disembunyikan. Menatap sebentar cincin yang masih tersemat sebab keadaan kian menyiksanya.
Andai perempuanya tahu betapa Athala mencintai Araya, Andai Araya tahu bahwa ia dunianya Athala. Andai ia tahu…
Bahwa Athala tidak pernah mendua.

Komentar
Posting Komentar