Un Choix

Penyesalan


Tw // mention of death

Gelas beer dihentakkan bersama amarah yang membucah. Ada ego yang ditantang, duduk tegak lawan stigma. Beer tak akan senikmat ini kalau tidak diminum dalam hati gemuruh dan badan kian sayu. Pikiran yang kian menyalang membawa kesan menyedihkan untuk manusia yang dipuja malam serta diagungkan para manusia.

“Apalagi…apalagi yang mau kamu minta? hancur saya tak cukupkah untuk mu? liat saya yang tak berdaya ini, masih mau kamu gunakan kah?”

Lontarnya dengan mata yang kian memberat, efek beer malam yang mulai datang. Badanya kian ringan bertolak belakang dengan hati yang kian berat. Ada sedikit air mata yang lebih bening dari gelas kaca, berusaha ditahan agar tidak semakin diinjak.

“Tentu saja, kenapa tidak. Selama diuntungkan saya ngga akan berhenti”. Katanya yang kelewat rendah, meremehkan Harsa yang sibuk pada gelas ornamen abstrak. Yang sibuk menata harga diri agar tidak diruntuhkan. Tangisan malam ini, tolong bawa dia ke jalan keluar.

“Persetan, kalian biadab. Anjing pun masih kalah dengan kalian yang bejat”.

“Tentu, namun kamu suka kan?”.

Harsa terjebak, egonya dikikis habis habisan. Ia harusnya tahu ada tanggung jawab yang dibayar dengan harga, sepertinya ia lupa sampai harus diingatkan dengan cara dipermalukan. Ia yang membawa diri namun ia juga yang menyesalinya, bersumpah pada mereka yang paling berkuasa namun lupa akan kodrat yang telah ia janjikan. Sang penguasa hanya mampu tertawa kecil, Harsa yang tidak tahu diri ini benar benar layak dipermalukan.

Badannya ia istirahatkan, marmer dingin sambut baik, beer dingin sudah habis. Kini tersisa diri dan risak yang menggema liar. Mengingat tujuan kesini, serta penyesalan tiada akhir. Ingin dipuja malam namun lupa harga dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Harsa suka dipuja namun dibawa kelangit lewat neraka benar-benar menyiksanya. Yang bekerja adalah tubuh, namun hati kian diremat pilu. Sadar akan pilihan sesat, ingin berubah namun sudah terlambat. Atau belum sama sekali?

“Sampai mati kalian tak ku maafkan. Ini janji ku, tolong didengar…sampai mati…aku bersumpah”.

Sang penguasa hanya berdecak. Sumpah tadi lebih mirip perkataan sampah, yang pantas untuk dibuang dan dilupakan saja. Harsa yang berbuat namun ia juga yang menyesal lantas ini bukan sepenuhnya Sang Penguasa. Ia hanya menawarkan dan menerima, dan semua keputusan tentu ada di tangan Harsa.

“Sumpah mu bukan yang pertama kalinya kami dengar, ini sudah menjadi sumpah yang ke- entahlah seribu atau bahkan lebih”.

Harsa sudah beribu kali mencerca dan berbagi sumpah serapahnya, tenggorokannya tak akan pernah lelah untuk melambungkan sumpah serapahnya hingga ke langit tujuh. Paham akan konsekuensi namun ini semua jauh dari yang ia setujui. Persetan dengan kontrak atas kertas, Sang Penguasa benar-benar melanggar haknya. Ia diperjual belikan layaknya boneka, lantas harga diri kian menipis. Harsa sebenarnya sudah tak sanggup lagi.

Jika bar tidak ramai mungkin ia sudah teriakan kata mati serta sumpahnya sekuat tenaga. Namun dia masih punya malu, sisa harga diri tak boleh disia siakan. Terlebih klien selanjutnya sudah menunggu di dalam kamar. Hati tak berhenti mengutuk pada ia Sang Penguasa namun diri tetap dibawa kerja, mengingat konsekuensi yang melibatkan nyawa. Namun persetan dengan nyawa, ia lebih baik mati dengan harga diri yang melejit.

Komentar