Un Choix

Pulang


“Aku mau pulang”. Kataku lantang.

Aku tak pernah selantang ini saat berbicara perihal pulang karena pada dasarnya aku tak punya tempat untuk pulang. Aku tak punya tempat untuk rehat atau menyandarkan kepala sejenak pada tempat yang seharusnya. Rumah yang selalu jadi tempat sambut menyambut oleh para manusia, tidak ada untuk ku. Tidak ada.

Apa yang kuharapkan dari peluh dan letih ku?

Saat manusia berbagi rasa sedangkan aku menuai karsa demi secercah harapan untuk makanan dan tempat layak. Jika kamu bingung, aku berbicara tentang rumah lain. Rumah yang bisa kamu raih dan kamu rengkuh dikala dunia kelewat sendu. Aku ini manusia menyedihkan, patah dan hancur sudah jadi makanan tapi diri harus tetap waras agar tubuh kembali kuat.

Sejujurnya aku ragu, sepenuhnya tak yakin. Perihal rumah, apa aku berhak? Kepulangan ku ini pantaskah untuk disambut? Jelas aku bertanya-tanya karena pada dasarnya aku hanya manusia yang tidak tahu diri dan jauh dari kata baik. Sumpah serapah sudah menjadi hiasan dimulut, serta dendam yang kian membelenggu lantas berhak apa aku?

Namun malam itu benar - benar ajaib. Pertemuan singkat yang tak terduga ternyata benar indahnya. Aku bagaikan karakter utama dalam cerita ku sendiri, namun lagi-lagi aku bertanya ‘apakah aku berhak?’. Aku tak pernah seyakin ini saat berbicara tentang pulang karena sejatinya aku tak punya rumah yang nyaman yang dapat menyambutku dengan hangat. Namun pertemuan singkat…dan…dia buat ku yakin akan rumah.

Aku tak pernah sekuat ini dalam menyatakan bahwa aku ingin sekali pulang karena biasanya aku tak punya apa-apa untuk disambut bahagia kehadirannya.

Namun dia luluhlantakan kepercayaan ku akan ketiadaan tempat yang pantas untuk ku. Dia patahkan keyakinan ku akan ketidakpantasnya aku dalam diterima. Dia bilang pada ku dengan percaya diri bahwa rumah ku ada dan dia dengan yakin mengatakan bahwa dia adalah rumahku.

Aku ingin menerima, tapi perkenalan kita terlalu singkat. Bagaimana…bagaimana jika nanti dia pergi? bagaimana kalau ternyata rumah yang ia bilang itu hanya untuk sesaat? bagaimana jika aku patah lagi? aku jelas ngga mau. Aku sudah cukup hancur.

“Aku punya jaminan untuk itu, jadikan aku rumah mu lantas kamu tak perlu takut lagi. Kamu akan ku sambut hangat dan ramah kapanpun itu. Dan jelas rumah mu akan terasa hangat dan siap melawan dinginnya dunia. Dengan begini apa kamu sudah siap? membangun rumah bersama ku yang kelak akan dihias bersama” katanya meyakinkan ku tentang rumah yang akan dibangun berdua.

“Baiklah aku menerima, tapi ingat sekali kamu ingkar aku akan menghilang”

“Aku akan mengingatnya dengan baik”

“Berapa lama yang akan kita habiskan nantinya?”

“Sehidup, semati” katanya yakin sambil menggenggam tangan mungil ku yang kian menghangat.

Karenanya aku pulang, karenanya aku punya rumah.


Komentar