- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Radeva…”.
“Iya?”
Kala sedang menimba, ada rasa yang kian gundah. Duduk disamping Radeva yang sengaja dibuat penasaran sebab Kala akan bertanya mengenai hati yang kian bimbang. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lekat netra Radeva. Mencari sebuah celah akan kebenaran karena tadi Radeva terlihat asik dengan seorang perempuan yang bukan dia. Radeva tertawa lepas dan menebar senyum manisnya yang buat Kala kian panas. Yang bahasa sederhananya Kala sedang cemburu.
“Ngga jadi”. Ucapnya dengan melempar direksi ke lain arah. Malas menatap Radeva karena kalau sudah begini Kala pun juga bingung dengan keinginannya yang tak mudah untuk ditebak. Tapi dia ini berhadapan dengan Radeva, yang sudah paham situasi dan kenal isi hati. Radeva hanya bisa tertawa kecil, melihat Kala yang kebingungan akan hati.
“Kenapa sayangku? kok mukanya cemberut gitu”.
Radeva mencoba mengalihkan pandangan Radeva, ia bawa dagu si manis untuk menatapnya yang tentu saja langsung ditepis telak oleh Kala. Kala sudah diam seribu kata, kalau sudah begini Radeva sudah harus turun tangan dan cukup mengalah. Katanya dalam hubungan salah satunya harus ada yang jadi air dan Radeva sudah berkali-kali jadi air. Apakah ia lelah? tentu tidak. Tidak ada kata lelah untuk menghadapi kelakuakan perempuannya.
“Ihh kok gitu, liat sini dulu… aku mau liat cantikku dulu”.
Kala masih diam,satu tarikan napas dan ia bawa pandangannya ke Radeva. Menatap sebentar lalu tertunduk dalam. Cukup gelisah dan melampiaskannya pada ujung kaos yang ia kenakan. Radeva masih senyum, namanya jatuh cinta kalau ngga buta ya gila.
Ngga ada yang berbicara, Kala dengan kalutnya dan Radeva dengan perasaannya. Berdua saling tenggelam dalam lautan pikiran. Kala yang masih berpikir tentang perempuan tadi dan Radeva yang sudah jelas dengan Kala dipikirannya.
“Kalau diam aja mending aku pulang”.
“Eits…. iya iya sini kita ngobrol. Jangan pulang dulu dong kan aku kangen”.
Kala buang napas, semakin resah sebab Radeva didepan terlihat baik-baik saja lantas ia semakin dilahap pikiran yang menyesatkan. Kalau sudah begini solusinya hanya bicara tapi Kala ini orangnya ngga suka dibicarakan. Ia lebih memilih perasaannya untuk di tumpuk, di pendam dan ia sembunyikan di bagian paling dalam di hatinya. Kala ini sudah jago dalam menyimpan rasa tapi tidak jago dalam mengeluarkannya.
Radeva masih tak merubah posisinya, duduk menyilang di atas sofa sambil menumpu dagu pada tangan yang ia sandarkan di sofa. Menatap Kala yang sibuk dengan pikiran, memuja Kala yang resah akan cinta. Dunia bahkan iri dengan Kala yang selalu di agungkan oleh Radeva setiap saat. Memuja Kala sudah menjadi hobinya, mencintai Kala sudah menjadi tugasnya.
“Aku mau peluk dong. Boleh, ya?”.
“Hmm…”.
Perlahan tapi pasti, keduanya berbagi kehangatan disaat senja menampilkan gurat merahnya. Radeva bawa Kala ke pelukan hangatnya, mengusap pelan punggung perempuannya salurkan nyaman dan aman untuk wanita yang sebentar lagi menjadi miliknya. Miliknya seutuhnya. Pelukan tadi ia persingkat karena ia tahu bukan peluk yang Kala inginkan.
“Sayang… aku tau kamu pasti lagi mikirin perempuan tadi. Dia senior aku dan sering sekali membantu aku, dulu. Sebelum ada kamu. Kita ngga sedekat itu kok, hanya sebatas senior dan junior. Tadi kebetulan ketemu aja dan jadinya aku sapa. Ia cerita tentang keadaannya saat ini. Aku ketawa karena dia ceritain tentang tingkah keponakannya. Dia sudah menikah".
"Dia juga sedang mengandung, sayangku".
Ekspresi Kala berubah dan bisa tertebak bahwa inilah yang ingin Kala dengar. Radeva elus sebentar pipi gembil Kala, meraih tanganya untuk dibawa ke dalam genggaman hangat. Radeva hanya ingin Kala tenang.
“Aku ngga punya alasan untuk berpaling dari kamu, Kala. Aku bodoh kalau menyia-nyiakan wanita sepertimu. Didunia ini yang kayak kamu cuma satu, kamu sendiri. Jadi aku ngga mau menyia-nyiakan berlian yang sudah aku temukan”.
Kala dengan semburat merah di pipinya semakin indah, Radeva tak mungkin hanya diam saja. Ia ciumi semua sisi diwajah, tak boleh lewat satupun. Pokoknya semua indah, Radeva dibuat gila.
“Aaaa... Radeva udahh!!!”.
“Hehehe….aku gemes tau”.
“Tau ih… nyebelin banget”.
“Tapi kamu sayang, kan?”.
Hening dan Radeva minta validasi.
“Jawab dulu atuh…”.
“Iya…sayang”.
Dan cerita ini ditutup dengan sebuah kecupan yang Radeva persembahkan hanya untuk kekasih hebatnya yang katanya hanya satu didunia, Arkala Raveena. Hanya senja yang tahu akan dibawa kemana mereka nantinya.

Komentar
Posting Komentar