Un Choix

Merelakan


 cw // mention of death, harsh word

“Lo mau sampai kapan kek gini?”

Naka cuman bisa berdecak, kamar berantakan Harsha sangat dingin bahkan matahari segan untuk masuk lewat jendela karena Harsha benar-benar menutup gordennya dengan rapat. Naka hembuskan nafas pasrah, ini sudah seminggu setelah kepergian Nami yang mendadak memilih untuk menyerah tanpa pamit dari Harsha dan dunia. Harsha gagal melabuhkan cintanya yang sudah ia tumpuk dengan penuh hati dan seketika lenyap begitu saja. Tanpa ada pamit Harsha dibuat pusing tujuh keliling, tanpa pamit Harsha kehilangan jati diri, dan tanpa Nami pula ia kehilangan alasan untuk bertahan.

“Apa gue mati aja ya, Ka?”

Satu pukulan mendarat dengan kencang dipipi Harsha membuatnya terbaring dan memegangi pipinya yang mulai memerah. Harsha sudah lupa caranya hidup, membuatnya semakin sedih dan mulai paham dengan yang Nami rasakan. Harsha tak pernah bergini dan Nami membuatnya sadar bahwa semua orang juga punya jatuhnya.

“LO YANG BENER AJA ANJING! LO KIRA MATI KAGAK SAKIT?! SAKIT GOBLOK.”

Harsha menangis, Naka cuman bisa pejam mata dan tertunduk, Harsha sangat hancur dan Naka mencoba untuk mengerti tapi jalan pikiran Harsha sudah kacau dan perlu ditata dari awal. Akal sehatnya mulai terganggu Naka jelas ngga akan biarkan Harsha tersesat sendirian.

“Gue paham, lo mulai ngerti sama yang Nami rasain. Tapi bukan berarti lo juga harus rasakan itu juga.”

“Gue bisa apa tanpa Nami? Gue tanya sama lo, GUE BISA APA ANJING?!”

Harsha dengan air mata yang mengalir deras, kian memerah, dan napas mulai sesak. Naka buat Harsha duduk sekejap, berikan tisu sebagai isyarat bahwa tangisannya berhak untuk didengar, tepuk sebentar pundak sang kawan dan beri semangat lewat doa serta dalam diam. Naka hela napasnya, tangan masih setia menepuk pundak, salurkan nyaman dan coba tanamkan aman. Harsha di posisi yang rawan, ditinggal sebentar bisa berbuat hal yang tidak-tidak. Sudah seminggu juga ia tinggal disana dan untungnya Harsha tinggal di apart dengan dua kamar yang dimana satunya kamar tempat pelariannya.

“Lo pasti bisa, Nami juga pasti ngga mau liat lo begini.”

“Gue telat Ka, seharusnya dari awal gue utarain perasaan, harusnya dari awal gue buat dia merasa dicintai. Gue salah besar.”

“Lo ngga salah, mau lo utarain seribu kali pun kalau dia milih nyerah semua nya juga bakal sia-sia.”

Naka berlutut dan genggam tangan Harsha yang kian dingin, yakinkan sang kawan bahwa dunia masih butuh dia, ia juga masih butuh Harsha. Yakinkan Harsha bahwa ini hanya sebuah fase dan tentunya akan lewat. Layaknya jalan, ia sedang melewati jalan yang berlubang yang tentunya di akhir akan lebih mulus nantinya.

“Gue yakin lo bisa melewati ini. Hiduplah buat Nami. Jalani hidup yang diimpikan Nami, cuman lo yang bisa mewujudkan semua mimpi Nami dan yang paling penting hidup juga buat diri lo sendiri.”

Naka coba yakinkan Harsha, jalan keluar dan makan makanan enak pantas ia dapatkan. Harsha dipaksa bersihkan diri, buat penampilan sebaik mungkin karena dunia masih ingin melihat senyum dan sikap tengil Harsha. Mereka memutuskan makan di restoran yang biasa mereka datangi. Naka senantiasa bagikan senyuman sedangkan Harsha cuman bisa tertunduk dan terdiam.

“Spaghetti aglio olio dua ya dan vanilla milkshake dua.”

“Oke, ditunggu sebentar ya.”

Pesanan tadi menarik perhatian Harsha, dua pesanan tadi merupakan menu kesukaan Nami dan Naka tau itu.

“Gue udah hapal karena setiap kesini lo pasti pesen itu, yaudah gue pesen aja seperti gue bilang wujudkan hidup Nami tapi jangan lupa hidup buat diri lo sendiri.”

Naka baru saja membangkitkan semangat Harsha yang sempat terkubur dalam. Ia ingin menangis namun air matanya dipaksa untuk tahan. Benar, wujudkan hidup yang Nami inginkan adalah satu-satunya cara. Harsha kembali semangat dan Nami terus hidup dalam cerita Harsha.

“Enak juga, jadi doyan gue sama aglio olio. Milkshakenya juga manis, suka banget gue sama yang manis-manis.”

“Semua orang pasti bakal suka.”

Naka lega, jalan beriringan melewati kota dengan Harsha yang suasana hatinya mulai kembali baik memberinya tanda sebuah awalan yang baik. Naka cuman ingin kawannya untuk merasakan arti hidup walau kecil kemungkinan sebab arti hidup Harsha telah tiada. Menyusuri jalan kota juga tidak terlalu buruk untuk menenangkan pikiran. Mereka mulai berceloteh, bagi candaan dan tawa Harsha mulai kembali. Semua baik-baik saja hingga sosok Nami mencuri pandangan Harsha.

“Harsha, lo liat apaan dah?”

Tak ada jawaban, tubuh Harsha reflek bergerak mengejar sosok Nami yang mengunci pandangannya. Sesaat harapan Harsha muncul, berharap pada takdir indah.

Kakinya mulai berlari, mencoba untuk meraih sang wanita tanpa sadar sebuah truk sedang melaju ke arahnya.

“HARSHA!”

Semua terlalu tiba-tiba, Naka yang kalang kabut mencoba meraih Harsha yang sudah tak sadarkan diri. Naka dengan Harsha digenggaman serta handphone ditangan lainnya. Harsha tak sadarkan diri Naka jelas takut setengah mati, tubuh Harsha jelas kalah kuat dan Naka hanya bisa berdoa dan berharap.

Tubrukan tadi membuatnya terbangun dan tersadar, keringat bercucuran sebening gelas kaca yang sebenarnya rapuh. Suasana kian panas dan Harsha mencoba atur napas.

“Mas? hei kenapa?”

Mimpi buruk lagi-lagi menyambut Harsha lantas pelukan Nami pun menyambutnya. Menenangkan sekalian atur napas agar kiat stabil. Harsha punya sisi gelap dan Nami siap menerimanya.

“Aku mimpi kamu ngga ada, terus Naka bantuin aku buat bangkit tapi aku malah liat sosok kamu dan tiba tiba semuanya berakhir.”

“Sayang minum dulu, ya?”

Harsha menegak segelas air, dilanjutkan dengan aturan napas. Mencoba atur pikiran sembari mencerna yang telah terjadi dimimpinya. Semua hanya mimpi dan ia bersyukur akan itu. Nami masih disini dan itu sudah lebih dari cukup.

“Syukurlah cuman mimpi, aku masih punya kamu dan Naka.”

Nami meraih tangan Harsha, dielusnya sebentar dan tangan lain menangkup pipi berisi kesukaannya, ditatapnya ursa kesayangannya. Menatap prihatin keadaan Harsha yang tidak ada perubahan.

“Harsha, ikhlas ya sayang?”

“Maksud kamu?”

Harsha penuh tanda tanya, siapa yang harus ia ikhlaskan. Nami disin, benar-benar disisinya. Sentuhan Nami sangat nyata, jelas tak mungkin ia masih dibawa pengaruh mimpi. Semua tergambar jelas, lantas apa yang harus Harsha relakan. Raut wajahnya menunjukkan sebuah pertanyaan. Namun yang pasti dirinya tak siap akan pengakuan selanjutnya.

“Naka sudah ngga ada, sayang. Ia menyerah dan terbaring di lautan.”

Komentar